sport-science

Senam Ritmik, Olahraga Menyehatkan atau Merugikan Atletnya?

Jumat, 15 Maret 2024 | 14:23 WIB
Senam ritmik sering kali menjadi saksi para atlet mengadopsi kebiasaan makan yang tidak sehat. (Efrem Lukatsky)

SportlinkNews - Praktek olahraga tidak selalu dikaitkan dengan konsep kesehatan. Senam ritmik sering kali menjadi saksi para atlet mengadopsi kebiasaan makan yang tidak sehat. Hal ini dapat menyebabkan gangguan makan.

Sebuah penelitian mengevaluasi sampel pesenam ritmik asal Italia Selatan ditinjau dari kebiasaan makan, gangguan makan, dan gangguan siklus menstruasi.

Metode
Anak perempuan di bawah usia 19 tahun yang berlatih senam ritmik menjawab dua kuesioner: Tes Sikap Makan (EAT); dan Tes Investigasi Bulimia Edinburgh (BITE). Kuesioner kesehatan juga diusulkan.

Baca Juga: Atlet Patut Ikuti Pola Gerakan Dasar yang Tepat Ini

Para peserta memiliki indeks massa tubuh rata-rata 17,9 ± 2,2 kg/m2; 33,33 persen pesenam melaporkan skor  ≥ 20 pada EAT, yang mengindikasikan kemungkinan gangguan makan.

Pada subskala Gejala BITE, 6,7 persen pesenam memiliki skor antara 10 dan 19 (kebiasaan makan tidak normal); 10 persen mendapat skor  ≥ 20 (kemungkinan makan berlebihan karena gangguan makan). Beberapa pesenam menunjukkan perubahan siklus menstruasi.

Kesimpulan
Temuan ini menekankan perlunya perhatian khusus terhadap gangguan makan, perubahan menstruasi, dan pendidikan di kalangan pesenam ritmik.

Pelatih dan manajer tim harus melakukan pemantauan dan tindakan pencegahan untuk mengatasi masalah ini seiring transisi atlet menuju usia dewasa.

Atlet wanita
Gangguan makan, termasuk anoreksia nervosa, bulimia nervosa, dan makan berlebihan, dapat menimbulkan konsekuensi yang parah jika tidak ditangani.

Tanpa intervensi, gangguan ini dapat menyebabkan masalah kesehatan jangka panjang dan meningkatkan angka kematian. Oleh karena itu, penting untuk mencegahnya.

Atlet berisiko mengalami gangguan makan, terutama dalam olahraga yang praktisinya memerlukan komposisi tubuh atau bentuk tubuh tertentu untuk mendapatkan performa terbaik.

Atlet wanita sering kali menunjukkan kecenderungan perfeksionis, dan mereka sangat rentan terhadap gangguan makan. Statistik menunjukkan bahwa atlet elit menunjukkan prevalensi gangguan makan yang tinggi dibandingkan dengan populasi umum.

Baca Juga: Update PON XXI 2024 Aceh-Sumut, Progres Venues Sudah 50 Persen

Hal ini terutama terjadi pada olahraga yang menekankan pada kelangsingan atau berat badan rendah, atau di mana estetika dianggap sebagai elemen fundamental untuk hasil.

Halaman:

Tags

Terkini

Latihan Sprint Untuk Petinju, Begini Anjurannya

Selasa, 7 April 2026 | 09:50 WIB