Timnas Indonesia: Rasa, Keadilan dan Etika

Suryansyah, Sportlink News
- Kamis, 9 Oktober 2025 | 19:32 WIB
Suryansyah, Ketua Komisi Seksi Wartawan Olahraga Indonesia (Siwo) PWI Pusat.
Suryansyah, Ketua Komisi Seksi Wartawan Olahraga Indonesia (Siwo) PWI Pusat.

Warganet pun iseng dengan mengunggah video Marselino lagi nonton timnas sembari berbaring di tempat tidur. Sebuah sindiran halus lantaran Marselino tak masuk skuat Kluivert pada ronde 4 Kualifikasi Piala Dunia 2026. #marceng sempat popular di X.

Itulah selera dalam sepak bola. Kluivert tentu punya alasan tersendiri. Ia yang tahu kondisi terkini tim. Meneer juga pegang 'kalkulator' untung atau buntung sebuah tim.

Bahwa terjadi spekulasi strategi mungkin tak bisa dihindari. Bahwa akhirnya ia jadi sasaran amarah warganet, itu risiko yang harus dihadapi.

Baca Juga: Mantan Pejabat Malaysia Menuntut Deportasi 7 Pemain Naturalisasi Bodong setelah Sanksi FIFA

Lain cerita jika skenarionya berjalan mulus. Tentu semua akan wangi. Dari sudut warung kopi pun tak habis dikupas dari pagi hingga malam hari.

Sekarang mari kita bicara keadilan dan etika. Ketika keduanya bersatu, kita mencapai kondisi yang ideal dalam pengambilan keputusan dan tata kelola suatu sistem, baik itu dalam olahraga, hukum, bisnis, maupun kehidupan sehari-hari.

Kekhawatiran akan keadilan sang wasit tidak terbukti. Wasit Ahmad Al-Ali asal Kuwait berdiri dengan gagah di tengah lapangan.

Ia tidak mudah terprovokasi oleh aktor Green Falcon yang kurang beretika. Tersenggol sedikit terlempar seperti disambar angin puting beliung.

Baca Juga: Komentar Pelatih Arab Saudi Usai Taklukkan Timnas Indonesia, Herve Renard: Saya Melihat Kualifikasi di Mata Abu Al-Shamat

Ditekel kaki terguling-guling sambil pegang kepala. Rasanya gemas menyaksikan telenovela Timur Tengah. Tapi, Ahmad Al-Ali tak tertarik dengan adegan murahan itu.

Ahmad Al-Ali membuktikan keadilan perlu ditegakan. Ketika Hassan Al-Tambakti handball- ia tak melihat kejadiannya.

Ahmad Al-Ali tak langsung menunjuk titik putih. Ia perlu bantuan VAR untuk memastikan. Cukup lama ia mencermati dari layar kaca. Dari berbagai sudut agar keputusannya tidak keliru.

Baca Juga: Ronaldo Miliarder Pertama dalam Sejarah Sepak Bola

Pun penalti kedua untuk Indonesia maupun Arab Saudi. Ahmad Al-Ali selalu meminta bantuan VAR. Ia juga tak segan merogoh kartu kuning buat yang mencoba memprovokasinya. Bahkan satu kartu merah dikeperet kepada pemain Arab Saudi.

VAR yang biasanya dikutuk, kini telah memberi pelajaran berharga. Bukan hanya objektivitas. Tapi juga keadilan dan kejujuran. Bahwa sang pengadil berdiri di atas sumpahnya.

Halaman:

Editor: Suryansyah

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X