Rayhan Hannan: Tidak Ingin Hanya Waspadai Vietnam di ASEAN Championship 2026

Gbonk Anaqy Setyawan, Sportlink News
- Jumat, 3 Juli 2026 | 22:54 WIB
Gelandang Garuda Rayhan Hannan di acara Water Break PSSI Pers, di Jakarta, Jumat, 3 Juli 2026.
Gelandang Garuda Rayhan Hannan di acara Water Break PSSI Pers, di Jakarta, Jumat, 3 Juli 2026.

SportlinkNews - Vietnam memang diprediksi menjadi lawan terberat Timnas Indonesia di Grup A ASEAN Championship 2026. Namun, gelandang Garuda Rayhan Hannan menilai bahwa ancaman tidak hanya datang dari Vietnam.

Menurutnya, perkembangan sepak bola Asia Tenggara membuat Singapura, Kamboja, hingga Timor Leste juga layak diwaspadai.

Hal itu didasarkan pada pengalamannya saat memperkuat Timnas Indonesia di ASEAN Championship 2024. Menurut pemain Persija Jakarta itu, perkembangan negara-negara lain di kawasan tidak bisa lagi dipandang sebelah mata. 

Baca Juga: Ducati Pertahankan Pertamina Enduro VR46 Racing Team sebagai Tim Satelit Utama

Perubahan kualitas tim-tim Asia Tenggara dalam dua tahun terakhir dinilainya cukup pesat.

Pengalaman menghadapi Laos pada edisi sebelumnya menjadi bukti bahwa pertandingan melawan tim yang di atas kertas tidak diunggulkan pun tetap bisa berjalan sulit.

"Menurut saya pasti berbeda dari 2024. Bukan hanya Vietnam, tetapi semua tim di Asia Tenggara sekarang berkembang," ujar Rayhan dalam acara Water Break PSSI Pers di Jakarta, Jumat, 3 Juli 2026.

Baca Juga: Kroasia Tersingkir dari Piala Dunia 2026, Zlatko Dalic Kritik Keputusan Wasit

"Waktu itu kami melawan Laos juga hanya seri. Jadi Laos, Kamboja, dan tim-tim lain tidak bisa diremehkan karena dalam dua tahun perkembangan mereka sangat besar." 

Ia juga menyoroti peningkatan kekuatan sejumlah negara lain di kawasan. Filipina, misalnya, kini diperkuat banyak pemain keturunan, sementara Vietnam terus menunjukkan perkembangan yang konsisten baik dari sisi permainan maupun persiapan tim.

Rayhan mengungkapkan, kebiasaan Vietnam mengirim pelatih untuk mengamati calon lawan bukan hal baru.

Baca Juga: Liverpool FC Bangun Monumen Mengharukan untuk Diogo Jota dan Andre Silva di Anfield

Saat membela Indonesia di ASEAN U-23 Championship, ia juga melihat pola serupa dilakukan oleh tim berjuluk Golden Star Warriors tersebut.

"Setahu saya pelatih senior dan tim pelatih U-23 Vietnam hampir sama. Mereka memang selalu melakukan pengamatan seperti itu. Sekarang mereka memantau kita, tetapi Indonesia juga sudah tahu bagaimana mengantisipasi Vietnam," imbuhnya.

Sementara itu, penjaga gawang Cahya Supriadi menilai peluang Indonesia meraih gelar tetap terbuka lebar apabila seluruh pemain mampu menjaga kekompakan.

Baca Juga: Pemulihan Lancar, Johann Zarco Targetkan Kembali Membalap di September 2026

Ia menegaskan keberhasilan tim tidak bergantung pada satu atau dua pemain, melainkan kerja sama seluruh lini.

"Kami harus saling percaya, mulai dari pemain belakang, gelandang sampai penyerang. Kalau bisa bekerja sama dengan baik, kami bisa mencegah kebobolan dan meraih kemenangan," ungkapnya.

Kiper berusia 23 tahun itu juga optimistis pengalaman sejumlah pemain senior, termasuk Rizky Ridho dan pemain-pemain yang telah lama membela tim nasional, akan menjadi modal penting menghadapi persaingan di ASEAN Championship 2026.

Baca Juga: Berbeda dari FIFA, UEFA Takkan Terapkan Prestianni Law di Kompetisi Eropa

"Dengan komposisi pemain yang ada sekarang, saya rasa kami sangat siap mengejar gelar juara tahun ini," ucapnya optimistis.

Pengamat sepak bola Marco Tampubolon menilai persaingan ASEAN Championship edisi kali ini akan semakin sengit karena seluruh peserta melakukan persiapan serius.

Vietnam menggelar pemusatan latihan di Korea Selatan, sementara Singapura dan Kamboja memilih Jepang sebagai lokasi persiapan.

Baca Juga: Luis de la Fuente Sebut Kepuasan Bisa Bunuh Peluang Spanyol Kontra Portugal

Menurutnya, keseriusan negara-negara peserta mengirim pelatih untuk memantau calon lawan menjadi bukti bahwa ASEAN Championship tetap memiliki gengsi tinggi di kawasan Asia Tenggara.

"Kalau dulu istilahnya 'mengintip kekuatan lawan'. Mereka melakukan itu karena ingin menambah koleksi gelar. Artinya, turnamen ini tetap dianggap penting oleh semua negara," tukasnya.

Marco menambahkan, di luar aspek teknis, faktor mental akan menjadi penentu perjalanan Indonesia.

Baca Juga: Penghormatan Emosional Cristiano Ronaldo untuk Luka Modric di Piala Dunia 2026

Ia berkaca pada ASEAN Championship 2010 ketika Timnas tampil impresif sepanjang fase grup, tetapi gagal mengangkat trofi setelah mental pemain tertekan saat menghadapi atmosfer laga tandang di final.

"Teknis masih bisa diasah, tetapi mental berasal dari dalam diri pemain. Itulah yang nantinya akan menjadi pembeda ketika pertandingan berlangsung," tuturnya.

Editor: Gbonk Anaqy Setyawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X