Chuck Wepner Petinju Kulit Putih yang Pernah Menganvaskan Muhammad Ali

Andi Wahyudi, Sportlink News
- Senin, 1 April 2024 | 18:00 WIB
Pertandingan Chuck Wepner vs Muhammad Ali, 1975 (BBC Sport)
Pertandingan Chuck Wepner vs Muhammad Ali, 1975 (BBC Sport)

Wepner menyelinap di bawah jab kiri sang juara untuk mendaratkan pukulan ke tubuh dengan tangan kanannya yang membuat Ali terhuyung-huyung ke atas kanvas.

"Saya memukulnya, saya merasakan pukulan itu sampai ke bahu saya. Dia kehilangan keseimbangan dan saya menjatuhkannya dan dia tahu itu."

Melihat Ali bangkit dari posisinya di sudut netral, Wepner melihat sebuah perubahan pada raut wajah Ali.

"Saya berpikir, saya benar-benar membuatnya marah. Seketika itu dia mulai membalas pukulan dan menyumpahiku," kata Wepner.

Merasa kesal karena dijatuhkan, Ali terus menyerang Wepner tanpa henti. Aksi balas dendam Ali membuat Wepner hanya bertahan kurang 19 detik sebelum ronde 15 berakhir.

Wepner menerima 23 jahitan setelah pertandingan itu dan membawa pulang hanya seperlimabelas dari bayaran yang diterima Ali.

Meski begitu, Wepner dinilai sebagai petinju yang beruntung karena berkesempatan bertanding melawan Muhammad Ali.

Apalagi Wepner belum pernah berlatih di bawah bimbingan pelatih berdedikasi. Tetapi ia mampu melampaui ekspektasi orang-orang dengan aksinya.

Inspirasi Film Rocky

Wepner tak hanya mampu bertahan sepanjang pertarungan melawan juara dunia yang merupakan salah satu sosok terhebat di dunia tinju, dia juga menjadi orang keempat dalam sejarah yang mengkanvaskan Ali.

Salah satu penonton pertarungan legendaris tahun 1975 itu – yang menonton lewat tayangan televisi dari bioskop di Los Angeles – sangat terinspirasi oleh kisah Wepner dan momen ketika ia menjatuhkan Ali.

Si penonton ini bergegas pulang dan menciptakan karakter baru untuk naskah film yang muncul di benak pikirannya.

Chuck Wepner, 2006. Sosok petinju yang mengilhami film kolosal (BBC/Getty Image)

Setelah banyak naskah lamanya terbuang, penulis itu menulis kisah seorang petinju yang sudah melampaui masa kejayaannya. Naskah tersebut dia selesaikan dalam kurun waktu tiga setengah hari.

Film yang diadaptasi dari naskahnya akhirnya menjadi film paling laris pada 1976, memenangkan tiga piala Oscar pada 1977.

Halaman:

Editor: Andi Wahyudi

Sumber: BBC

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X