SportlinkNews - Perselisihan senilai £5 miliar atau stara dengan Rp 120 triliun antara pemilik bersama Chelsea terkait rencana pembangunan stadion baru mempercepat perubahan kepemimpinan di klub tersebut.
Ketua Chelsea, Todd Boehly, dan sesama miliarder Mark Walter terbuka untuk menjual saham minoritas mereka, di tengah penyelidikan otoritas AS terhadap urusan keuangan Walter.
Proyek pembangunan markas baru yang telah lama tertunda merupakan faktor utama yang mendorong Boehly dan pemegang saham mayoritas, Clearlake Capital, menuju perpecahan konsorsium BlueCo mereka.
Baca Juga: Unggul 2-0, Vietnam Tak Mau Terlena Hadapi Malaysia di Leg 2 Semifinal ASEAN Championship
Diketahui bahwa Clearlake—yang memiliki 61,85 persen saham—dan Boehly tidak memiliki pandangan yang sama mengenai masa depan jangka panjang klub dan meyakini bahwa salah satu pihak harus mengalah dalam perebutan kekuasaan ini.
Markas baru untuk menggantikan Stamford Bridge yang sudah tua dan untuk menghasilkan pendapatan lebih besar merupakan elemen kunci dalam impian BlueCo untuk meraih kesuksesan berkelanjutan, baik di dalam maupun di luar lapangan.
Boehly dan Behdad Eghbali, salah satu pendiri Clearlake, sepakat bahwa Chelsea hampir pasti perlu pindah ke lokasi yang dibangun khusus untuk tujuan tersebut, jauh dari Stamford Bridge.
Baca Juga: Enzo Fernandez Dicemooh Habis-habisan di Chelsea
Namun, visi mereka mengenai kompleks serbaguna itu—baik di Earls Court maupun lokasi lainnya—berbeda.
Yang lebih krusial, tidak ada pihak yang bersedia menanggung bagian mereka dari perkiraan biaya konstruksi sebesar £5 miliar selama pihak lain masih memegang kendali atas proyek tersebut dan arah klub secara keseluruhan.
Boehly dan Walter, yang telah berteman dan bermitra bisnis selama bertahun-tahun, masing-masing menguasai 12,8 persen saham BlueCo melalui perusahaan induk bersama, sementara pengusaha asal Swiss, Hansjorg Wyss, memiliki porsi saham yang lebih kecil.
Baca Juga: Srikandi Merdeka Cup 2026: Garuda Pertiwi Sempurna, Malaysia Geser Hong Kong ke Semifinal
Eghbali telah menjadi sosok dominan dalam operasional harian Chelsea sejak awal tahun 2023.
Tapi, kubu Boehly—sama halnya dengan Clearlake—memiliki hak veto atas keputusan-keputusan besar, termasuk transfer pemain dan proyek jangka panjang seperti pembangunan stadion.