SportlinkNews - Enam belas tahun yang lalu, seorang remaja laki-laki berusia 14 tahun memukul-mukul televisi pinjaman di sebuah kamp musim panas di Connecticut saat Andres Iniesta mencetak gol kemenangan yang memastikan gelar Piala Dunia pertama bagi Spanyol.
Musim panas ini, saat ia sendiri mengangkat trofi Piala Dunia sebagai kapten La Roja, anak laki-laki yang sama itu memilih untuk kembali ke rumah bagi para gelandang legendaris: Barcelona.
Kecintaan pada sepak bola menerangi suasana kamp.
Pada musim panas tahun 2010, Rodri pemain muda di akademi Atletico Madrid.
Baca Juga: Bernardo Tavares Akui Persebaya Masih Memiliki Kelemahan Menjelang Super League
Ia menyeberangi Atlantik untuk mengikuti kamp musim panas Incarnation di Deep River, Connecticut (AS)— tempat di mana aturan tata tertib hampir sepenuhnya mengisolasi para peserta dari dunia luar, termasuk dari pertandingan Piala Dunia yang sedang berlangsung di Afrika Selatan.
Namun bagi Rodrigo Hernandez Cascante, remaja asal Spanyol yang saat itu berusia 14 tahun, tak ada yang bisa menghalanginya untuk menyaksikan timnya berlaga di final Piala Dunia pertama mereka.
Penyelenggara kamp tahun itu, Chris Garrecht-Williams, harus membeli televisi sederhana dari Walmart terdekat — dengan niat mengembalikannya keesokan paginya—lalu buru-buru mendaftar layanan TV kabel dan menarik kabel listrik dari satu-satunya bangunan yang memiliki aliran listrik di kamp tersebut menuju ruang bersama.
Baca Juga: Marwan/Aisyah Menang di Debut Kejuaraan Dunia, tapi Belum Puas
Kursi pantai dan bantal-bantal dibawa masuk, popcorn dibagikan, dan lampu diredupkan untuk memberi jalan bagi layar kecil yang menayangkan pertandingan Spanyol melawan Belanda di Afrika Selatan.
Pertandingan itu terkenal karena menghasilkan 14 kartu kuning—sebuah rekor untuk final Piala Dunia—serta tekel brutal Nigel de Jong yang menghantam dada Xabi Alonso.
Kebuntuan skor bertahan hingga menit ke-116, saat Iniesta melepaskan tendangan voli penentu kemenangan. Rodri melompat kegirangan dan memukul meja dengan sangat keras hingga televisi pinjaman itu berguncang.
"Dia begitu bersemangat sampai-sampai dia memukul meja dan membuat layar televisi terus bergoyang," kenang Jimmy Christensen, kepala kamp saat itu.
Baca Juga: Unggul 2-0, Vietnam Tak Mau Terlena Hadapi Malaysia di Leg 2 Semifinal ASEAN Championship
Selain pertandingan final, Rodri harus mencari cara agar tidak ketinggalan kabar perjalanan timnya. Ada kalanya ia harus menunggu dua hari untuk mengetahui bahwa Spanyol telah mengalahkan Paraguay 1-0, karena saat itu ia sedang melakukan perjalanan kano jarak jauh tanpa sinyal komunikasi.
Artikel Terkait
Alasan di Balik Penolakan Rodri Sulit Dilupakan Penggemar Real Madrid
Isenmulang Kalteng FC Gulung Barito Putera di Laga Uji Coba, Sang Pelatih Catat Beberapa Titik Lemah
Legenda Salahkan Keputusan Real Madrid Usai Rodri Pilih Gabung Barcelona
Srikandi Merdeka Cup 2026: Garuda Pertiwi Sempurna, Malaysia Geser Hong Kong ke Semifinal
Comeback Dramatis Antar Persib Juara Dewata Challenge Series 2026