Bagi mereka, kehadiran time clock justru menuntut fokus ekstra agar tidak terlambat memulai permainan berikutnya.
Bagas menyebut kebiasaan lama terkadang masih terbawa ke lapangan. Ketika reli berakhir, pemain kerap menunggu aba-aba seperti sebelumnya, sementara kini waktu sudah terus berjalan.
Situasi itu membuat mereka harus lebih peka membaca momen kapan servis sudah bisa dilakukan.
Baca Juga: Unai Emery Sebut Aston Villa Belum Siap Jadi Pesaing Lima Besar
"Kami masih belum terbiasa dengan aturan baru ini, kadang masih kayak nunggu, ini sudah bisa servis atau belum, ya?" ucap Bagas di Istora Senayan, Jakarta, Selasa, 20 Januari 2026.
Pandangan berbeda datang dari Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri. Menurut mereka, karakter permainan ganda putra yang cepat dan jarang diwarnai reli panjang membuat aturan 25 detik nyaris tak terasa.
Dalam banyak situasi, kedua pasangan sudah kembali siap bermain bahkan sebelum batas waktu tersebut tercapai.
Baca Juga: Demi Lolos dari Zona Degradasi Persis Solo Rekrut Tiga Pemain Serbia di Putaran Kedua Super League
"Mungkin di ganda putra ini (tempo permainannya) cepat ya. Cepat permainannya dan jarang reli. Jadi memang nggak sampai 25 detik juga pasti sudah siap lagi," kata Fajar.
Meski demikian, Fajar menilai dampak aturan ini bisa lebih terasa di sektor lain, terutama ganda putri, yang sering menghadirkan reli panjang dan jeda lebih lama antar poin.
Pada kondisi tersebut, kehadiran time clock dinilai dapat mengubah kebiasaan pemain dalam mengatur napas dan ritme permainan.
Artikel Terkait
Indonesia Masters 2026: Ganda Putra Indonesia Terancam Bentrok Lebih Awal
Dukungan Istora Jadi Energi Tambahan Fajar/Fikri di Indonesia Masters 2026
Kembali ke Istora, Ginting Jalani Babak Baru di Indonesia Masters 2026
Empat Ganda Putra Indonesia ke 16 Besar, Satu Tiket Perempat Final Indonesia Masters 2026 Dipastikan
Derby Panas Ganda Putra di Indonesia Masters 2026