Kunlavut Vitidsarn Harus Mulai dari Nol Lagi

Suryansyah, Sportlink News
- Rabu, 6 Maret 2024 | 22:04 WIB
Kunlavut Vitidsarn belum pernah membuat gebrakan di sirkuit sejak ia meraih gelar juara pada Agustus lalu. (bwfbadminton)
Kunlavut Vitidsarn belum pernah membuat gebrakan di sirkuit sejak ia meraih gelar juara pada Agustus lalu. (bwfbadminton)

SportlinkNews - Sebagai seorang juara dunia, Kunlavut Vitidsarn belum pernah membuat gebrakan di sirkuit sejak ia meraih gelar juara pada Agustus lalu.

Kunlavut Vitidsarn terhenti di semifinal DAIHATSU Indonesia Masters pada bulan Januari lalu. Pencapain itu merupakan penampilan terbaiknya setelah serangkaian kekalahan awal.

Di YONEX French Open 2024 ini, ia harus berjuang keras untuk tetap bertahan di ajang tersebut setelah membuang empat match point melawan Brian Yang di babak pembuka yang menegangkan.

Vitidsarn dengan mudah mengakui bahwa dia tidak berada pada level seperti tahun lalu. Hal yang tidak biasa bagi seorang pemain papan atas, ia tidak ragu untuk menghubungkan penurunan performanya dengan tekanan yang dialaminya sebagai juara dunia.

Baca Juga: Jonatan Christie Angkat Koper dari French Open 2024

“Saya sangat senang berada di sini, saya mengalami banyak tekanan. Ini pertunjukan baru sekarang, tidak apa-apa kalau kurang bagus, saya bisa belajar. Brian Yang adalah pemain top tapi hari ini saya senang bisa menang," ujar Kunlavut dilansir bwfbadminton.

Lebih lanjut pebulutangkis asal Thailand itu mengatakan di setiap turnamen dia mendapat tekanan. Jika kalah, dia akan kembali berlatih keras. Sekarang tunggal putra sangat sulit di setiap babak.

"Saya harus berubah dan itu tidak berhasil di setiap turnamen. Di beberapa turnamen, shuttlecock berjalan lambat. Tetapi jika Anda terus bermain cepat, hal itu akan melelahkan. Jadi Anda harus mengubah permainan Anda, kadang bertahan dulu, kadang menyerang dulu,” papar pemain berusia 22 tahun itu.

Apa penyebab hilangnya performanya setelah Kejuaraan Dunia?

“Setelah Kejuaraan Dunia, saya harus melakukan banyak wawancara, kemudian saya mengalami cedera dan demam, dan saya harus dirawat di rumah sakit,” kenangnya.

 

Dia mengaku tidak banyak latihan. Ketika kembali berlatih, merasa sangat lelah. Setelah itu, dia tidak bisa mengendalikan pola pikirnya karena butuh istirahat.

"Semua orang tahu bahwa saya harus istirahat lama. Namun ketika saya kembali, ada tekanan di setiap turnamen, dan di bawah tekanan Anda tidak dapat mengendalikan shuttlecock. Anda mulai membuat kesalahan mudah di bawah tekanan," pungkasnya.

Halaman:

Editor: Suryansyah

Sumber: bwfbadminton.com

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X