bulutangkis

Indonesia Pulang Tanpa Medali dari China Masters 2025, Pengamat Soroti Penurunan Prestasi

Minggu, 21 September 2025 | 18:32 WIB
Aksi ganda baru, Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri di semifinal China Open 2025, Sabtu, 20 September 2025. (PBSI)

tlinkNews - Indonesia kembali gagal meraih medali pada ajang China Masters 2025, turnamen BWF Super 750 yang digelar di Shenzhen, China.

Hasil ini memperpanjang catatan kurang memuaskan sepanjang musim, di mana hingga kini Merah Putih baru mengoleksi satu gelar dari level Super 1000 dan tiga gelar dari turnamen Super 300.

Pengamat bulutangkis nasional, Putra Tegar Permata Idaman, menilai pencapaian ini menunjukkan tren menurun dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Baca Juga: Ini Penyebab Karier Neymar di Santos Bisa Tamat

"Kalau melihat hasil-hasil yang ada, secara keseluruhan bisa dibilang ada penurunan. Sekarang ketika masuk 16 besar saja sudah mulai khawatir karena jumlah wakil kita sedikit," katanya di Kudus, Minggu, 21 September 2025. 

Di perempat final saja, saat ini rata-rata dilihatnya kurang dari lima wakil, bahkan di semifinal. Putra menilai, sering hanya menyisakan satu wakil atau malah kosong..

Ia menambahkan, kondisi ini bisa dimaklumi karena Indonesia tengah berada dalam masa transisi. Generasi emas yang tampil di Olimpiade Paris 2024 mulai menurun, sementara pemain-pemain muda belum sepenuhnya siap mengisi peran besar.

Baca Juga: 72 Menit Debut Calvin Verdonk di Ligue 1, Rapornya Apik tapi Lille Berakhir Pahit

"Contoh seperti Jafar/Felisha (Jafar Hidayatullah/Felisha Nathaniel Pasaribu) di ganda campuran dan Alwi Farhan di tunggal putra," kata Putra.

"Progres mereka sejauh ini cukup bagus, tapi karena sudah menjadi andalan utama, otomatis sorotan publik lebih besar. Kalau kalah, kritik datang lebih deras karena mereka tidak lagi terlindungi senior," jelasnya lagi.

Menurut Putra, tantangan terbesar saat ini justru ada pada mentalitas pemain muda.

Mereka harus siap menjadi tulang punggung tim sekaligus menerima tekanan sebagai andalan utama, seperti yang pernah dialami Jonatan Christie dan Anthony Ginting di masa lalu.

Baca Juga: Petinju Binaan Pertina Borong 3 Medali Emas di Malaysia, Ketum KONI Pusat Ucapkan Selamat

Meski begitu, ada secercah harapan di sektor ganda. Eksperimen pasangan baru seperti Fajar Alfian/Moh. Fikri terbukti mampu bersaing di papan atas dengan konsistensi hasil dalam tiga turnamen terakhir. 

"Bisa jadi ini formula baru yang patut terus dicoba. Kalau di tunggal kan tidak mungkin ada bongkar pasang, jadi harus fokus pada pembinaan jangka panjang," tambahnya.

Di sektor tunggal putra, Alwi kini menjadi tumpuan utama di pelatnas setelah performa Ginting menurun.

Baca Juga: Casemiro Torehkan Rekor Unik saat Manchester United Tumbangkan Chelsea

Sementara di tunggal putri, Gregoria Mariska masih belum sepenuhnya pulih dari cedera, sedangkan pemain pelapis seperti Putri KW maupun Ester Nurumi tidak dalam kondisi terbaik.

"“PBSI harus serius memikirkan regenerasi tunggal putri karena jarak kualitas dengan elite dunia masih jauh," kata Putra.

Tags

Terkini