Kelima wakil Indonesia itu tidak mendapatkan status unggulan karena peringkat mereka dalam "Race to Finals" tidak menembus empat besar.
Artinya, mereka berpeluang besar bertemu lawan-lawan berat, favorit juara lebih awal di undian fase grup, termasuk dari negara-negara kuat seperti China, Denmark, dan Jepang.
Namun, sejarah menunjukkan status unggulan bukan jaminan juara. Viktor Axelsen pernah menjadi kampiun pada 2023 meskipun datang tanpa embel-embel unggulan.
Baca Juga: Tenis Indonesia Turunkan Kekuatan Terbaik, Christo–Aldila Pimpin Misi Empat Emas di SEA Games 2025
Indonesia sendiri membawa modal positif dari performa Jonatan Christie serta pasangan Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri. Fajar/Fikri bahkan lolos ke WTF meski baru dipasangkan kurang dari setahun.
"Kami mau rileks dulu (setelah turnamen terakhir di Australia Open), sebelum menyiapkan strategi karena semua lawan di sana adalah top delapan dunia," kata Fajar.
Jonatan juga berada dalam tren apik setelah meraih tiga gelar musim ini, bahkan menumbangkan dua unggulan utama, Shi Yu Qi dan Anders Antonsen.
Baca Juga: Usai Musim Berat, Marc Marquez Dorong Francesco Bagnaia Temukan Performa Terbaik
Undian babak grup akan digelar pada 13 Desember di Shanghai, China.
Ulangi hasil
Dari sektor ganda putra, Sabar Karyaman Gutama/Mohammad Reza Pahlevi kembali menginjakkan kaki di World Tour Finals untuk kedua kalinya. Musim lalu, mereka tampil mengejutkan dengan menembus semifinal.
Pelatih mereka, Hendra Setiawan, menetapkan target realistis namun menantang, yakni mengulangi pencapaian tahun lalu.
"Tahun lalu mereka sampai semifinal. Semoga tahun ini minimal bisa menyamai atau bahkan lebih," ujar Hendra.
Baca Juga: Timnas Voli Putri Bidik Kebangkitan, Megawati Jadi Ancaman di SEA Games 2025
Pada edisi sebelumnya, langkah Sabar/Reza terhenti setelah dikalahkan duo Denmark Kim Astrup/Anders Skaarup Rasmussen. Sementara Fajar/Fikri, yang ketika itu dikalahkan wakil Malaysia melalui rubber game.
Meski baru mencatatkan hasil terbaik runner-up di tahun ini, Hendra menilai Sabar/Reza mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Meskipun masih perlu meningkatkan konsistensi dan detail permainan.
Menurut Hendra, faktor pertemuan antarsesama negara membuat pola permainan relatif lebih mudah terbaca. Namun, kekuatan stamina dan daya tahan juga dinilai masih menjadi pekerjaan rumah.
Baca Juga: Lyfe Oldenstam Terbuka Bela Timnas Indonesia, Terinspirasi Sosok Jay Idzes
Melihat catatan sejarah, Indonesia baru sekali menjadi juara World Tour Finals, tepatnya pada 2019 lewat pasangan Mohamad Ahsan/Hendra Setiawan.