SportlinkNews - Langkah Tim Nasional eBasketball Indonesia pada Kualifikasi eFIBA Season 4 Regional Asia kembali terhenti di bawah Filipina, pada medio Februari lalu.
Meski tampil kompetitif dan menutup turnamen sebagai runner-up, hasil tersebut memantik evaluasi besar-besaran di tubuh tim Merah Putih.
Sepanjang turnamen yang digelar pada Februari itu, Indonesia menunjukkan performa impresif di fase awal. Kemenangan telak 308-80 atas Malaysia menjadi sinyal kesiapan tim, disusul hasil positif melawan Mongolia.
Baca Juga: Prediksi Real Madrid Vs Benfica: Tanpa Mourinho, Mbappe Diragukan
Namun ketika memasuki fase penentuan, Filipina kembali menjadi batu sandungan. Dalam laga upper bracket final, Indonesia harus mengakui keunggulan rivalnya dengan skor 122-177.
Ketua eSports DPP PERBASI, Pasya Marta Putra, menyebut capaian tersebut belum memenuhi ambisi untuk merebut supremasi Asia.
Ia menilai para pemain sebenarnya telah menjalani program persiapan intensif, termasuk peningkatan jam latihan secara signifikan, penguatan kekompakan tim, serta pembinaan aspek mental bertanding.
Baca Juga: Garuda Calling! 25 Pemain Masuk Long List Timnas Futsal untuk ASEAN 2026
"Hasil pertandingan di babak kualifikasi masih belum sesuai dengan ekspektasi kami, padahal sebagai tim kami merasa telah melakukan upaya maksimal dengan meningkatkan intensitas latihan hingga tiga kali lipat tahun ini, membangun chemistry yang kuat, serta menjalani latihan pengelolaan emosi dan mental," katanya.
"Namun, tampaknya upaya tersebut belum cukup untuk meruntuhkan dominasi Filipina yang selama ini menjadi jawara Asia di eFIBA."
Ia kemudian menyoroti, perbedaan mendasar bukan semata pada kemampuan individu. Ia menyoroti pentingnya pembenahan struktur pendukung dan pengembangan komunitas NBA2K nasional sebagai fondasi jangka panjang.
Baca Juga: Menpora Dorong PON Jadi Arena Seleksi Menuju SEA Games
Tanpa ekosistem yang kuat, mulai dari pemain pelapis, pelatih, analis, hingga kultur kompetitif, timnas dinilai akan kesulitan mengejar negara yang lebih mapan secara sistem.
Pasya menegaskan bahwa skuad saat ini dihuni talenta terbaik dengan kualitas mumpuni. Diskusi taktik dan sesi latihan yang dijalani bahkan disebut berlangsung dalam intensitas tinggi sepanjang musim.
Meski demikian, ia mengakui perlu ada lompatan kolektif agar Indonesia mampu keluar dari status penantang.
Baca Juga: Kemenpora Godok Skema Dana Pensiun Atlet, Erick Bentuk Tim Pakar
"Persoalannya bukan hanya terletak pada aspek skill dan mekanik permainan, tetapi juga pada ekosistem industri serta fondasi komunitas NBA2K yang belum dioptimalkan untuk memperkuat kapabilitas timnas, baik sebelum maupun saat pertandingan berlangsung," jelasnya.
"Dukungan itu mencakup kontribusi pemain di lapangan maupun peran di luar lapangan seperti staf pelatih dan analis pertandingan."
Sebagai langkah konkret, federasi bersama para pemain berencana menggerakkan kembali komunitas NBA2K Indonesia.
Artikel Terkait
SEA Games 2025: Timnas Basket Putra Indonesia Ditantang Vietnam di Perempat Final
Kisah Klub Basket Tertua di Indonesia Mencoba Bangkit di Musim Baru yang Menantang
Aime Leon Dore Perluas Kolaborasi Basket dengan New Balance lewat Fresh Foam BB v3
Meski Tersungkur, Tim Basket Kursi Roda 3x3 Indonesia Tetap Optimis Raih Perunggu ASEAN Para Games 2026
Bandung Arena, Kandang Satria Muda Jadi Simbol Energi Baru Basket Bandung