“Sebelum dunia mulai membicarakan Gaza hanya melalui lensa perang, itu hanyalah rumah,” ujarnya.
“Sebuah tempat yang penuh dengan orang-orang yang mencintai kehidupan, mencintai sepak bola, dan mencintai mimpi. Bagi saya, sepak bola bukanlah sekadar permainan. Itu adalah cara untuk membayangkan masa depan yang berbeda.”
Rasa imajinasi itu penting, karena di tempat-tempat di mana pergerakan dan kesempatan dibatasi, sepak bola bukan hanya rekreasi, tetapi juga cara untuk melihat melampaui batasan yang mengelilingi Anda.
Baca Juga: Aston Villa Mengamuk, Calvin Verdonk Tidak Mendapat Kesempatan
Namun, di Gaza, itu berarti belajar sejak dini bahwa sepak bola tidak dapat dipisahkan dari realitas kehidupan.
Periode kekerasan menyelingi rutinitas harian, dan bagi atlet muda, pengalaman-pengalaman itu pasti membentuk kembali makna permainan itu sendiri.
“Tumbuh besar di tempat yang mengalami periode kekerasan berulang kali mengubah hubungan Anda dengan sepak bola,” jelas Balah.
“Terkadang itu menjadi satu-satunya hal normal dalam hidup Anda. Ada hari-hari ketika Anda bisa mendengar bom, dan keesokan harinya Anda tetap pergi berlatih. Bukan karena hidup itu mudah, tetapi karena sepak bola memberi Anda kekuatan dan sesuatu untuk dipegang ketika segala sesuatu terasa tidak pasti.”
Baca Juga: Iran Panaskan Mesin di Turki, Tantang Otoritas Amerika Serikat
Di banyak belahan dunia, jalur menuju sepak bola profesional dipetakan dengan jelas: akademi युवा, pengembangan terstruktur, jaringan pencari bakat, dan peluang transfer yang menghargai bakat dan waktu yang tepat secara seimbang.
Namun, bagi para pemain di Gaza, struktur tersebut jarang ada dengan cara yang sama.
“Ada hambatan yang tidak ada hubungannya dengan bakat atau kerja keras, seperti perbatasan, pembatasan perjalanan, dan ketidakstabilan,” pungkasnya.
Baca Juga: Pakar Malaysia Sarankan Pembubaran Seluruh Manajemen Timnas
“Hal-hal ini dapat memperlambat karier Anda, tetapi juga membangun ketahanan dan mentalitas yang kuat.”
Perjalanan, khususnya, telah menjadi salah satu hambatan paling gigih bagi Balah.
Artikel Terkait
Menpora Pastikan Kesiapan GBK Gelar FIFA Series 2026
Barcelona Bidik Dua Alternatif Alessandro Bastoni karena Harganya Digandakan
Erling Haaland Investasi Besar di Olahraga Baru yang Mengejutkan
Manajer Spanyol Siap Mengambil Alih Manchester City Jika Pep Guardiola Pergi
Liverpool Incar Gelandang Real Madrid dengan Tawaran Rp 834 Miliar di Bursa Transfer Musim Panas