Maroko Tegaskan Kepatuhan Regulasi di Balik Pencopotan Gelar Juara Senegal

Muhammad Ridwan, Sportlink News
- Rabu, 18 Maret 2026 | 21:54 WIB
Trofi Piala Afrika. (Reuters)
Trofi Piala Afrika. (Reuters)

SportlinkNews - Drama perebutan takhta sepak bola Afrika akhirnya memasuki babak baru. Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) resmi mencopot gelar juara Piala Afrika 2025 dari tangan Senegal.

Keputusan besar ini mengubah hasil final yang berlangsung pada 18 Januari lalu, dengan kemenangan 1-0 Senegal atas Maroko dibatalkan. CAF menyerahkan gelar juara kepada tim Singa Atlas.

Melansir laporan ESPN, CAF menetapkan Maroko menang dengan skor administratif 3-0. Keputusan ini diambil sebagai buntut dari aksi kontroversial para pemain Senegal yang meninggalkan lapangan saat masa injury time babak kedua, tepat ketika pertandingan masih bermain imbang tanpa gol 0-0.

Baca Juga: Liverpool vs Galatasaray: Skuat Turki Bakal Dapat Tekanan Berat dari Suporter di Anfield

Kericuhan bermula saat wasit memberikan hadiah penalti kepada Maroko di pengujung laga. Protes keras pun meledak, dengan pelatih Senegal menginstruksikan seluruh skuadnya untuk keluar dari lapangan sebagai bentuk ketidakpuasan, yang membuat laga sempat terhenti total selama 17 menit.

Meski akhirnya bersedia kembali merumput, mentalitas pertandingan dinilai sudah berubah. Walaupun penalti yang dieksekusi Brahim Diaz gagal dan Senegal justru mampu mencetak gol kemenangan di babak perpanjangan waktu untuk mengangkat trofi, pihak Maroko merasa ada prosedur yang dilanggar secara fatal.

Federasi Sepak Bola Maroko (FRMF) pun melayangkan protes resmi kepada CAF. Dalam argumennya, mereka menilai tindakan walk out sementara yang dilakukan Senegal telah "berdampak pada alur laga dan performa para pemain" Maroko yang saat itu tengah berada di atas angin.

Baca Juga: Penampakan Stadion Ikonik Barcelona, Nou Camp seperti Lokasi Konstruksi

Setelah melalui peninjauan mendalam selama 57 hari usai final, CAF akhirnya mengabulkan banding Maroko. Otoritas sepak bola Afrika tersebut menyatakan Senegal terbukti melanggar Pasal 82 aturan Piala Afrika, yakni "meninggalkan lapangan sebelum pertandingan berakhir tanpa izin dari wasit."

Menanggapi pencopotan gelar tersebut, FRMF merilis pernyataan resmi untuk mengklarifikasi posisinya. Pihak Maroko menegaskan langkah hukum ini diambil bukan karena mereka tidak menghargai kualitas permainan lawan di lapangan hijau, melainkan demi tegaknya aturan.

"Federasi ingin mengingatkan bahwa pendekatannya tidak pernah dimaksudkan untuk menantang kinerja olahraga tim-tim yang berpartisipasi dalam kompetisi ini, tetapi semata-mata untuk meminta penerapan peraturan kompetisi," tulis pernyataan resmi FRMF.

Baca Juga: PSG ke Perempat Final Liga Champions, Catat Margin Kemenangan Agregat Terbesar Melawan Klub Inggris

Maroko menekankan integritas turnamen adalah hal yang paling utama dibandingkan sekadar hasil skor. Mereka berpendapat bahwa kepatuhan terhadap regulasi adalah fondasi dari setiap kompetisi profesional yang sehat di Benua Hitam.

"Federasi menegaskan kembali komitmennya untuk menghormati peraturan, memastikan kejelasan dalam kerangka kompetitif, dan menjaga stabilitas dalam kompetisi Afrika," sambung pernyataan federasi tersebut.

Halaman:

Editor: Muhammad Ridwan

Sumber: ESPN

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Tekuk Kroasia, Skuad Belgia Masih Adaptasi

Rabu, 3 Juni 2026 | 16:44 WIB
X