SportlinkNews - Ketika Emir Qatar menyampirkan jubah hitam bisht di pundak Lionel Messi selama final Piala Dunia 2022, seluruh dunia seolah mengerti bahwa sejarah baru saja menutup babak yang belum selesai hampir dua dekade.
Setelah banyak peluang yang terlewatkan, setelah air mata di Jerman pada tahun 2006, rasa sakit di Brasil pada tahun 2014, dan kejutan di Rusia pada tahun 2018, Messi akhirnya mengangkat trofi paling bergengsi di planet ini.
Itu bukan hanya momen kemenangan bagi tim Argentina. Tapi juga akhir yang sempurna untuk perjalanan seorang jenius sepak bola. Piala Dunia 2022 pun menjadi panggung terbesar dalam karier Messi — di mana ia tidak lagi dibandingkan dengan Diego Maradona atau Pele, tetapi naik ke puncak sepak bola dunia sendirian.
Baca Juga: Jakarta Bhayangkara Presisi Cetak Sejarah, Lolos Final AVC dan Raih Tiket Kejuaraan Dunia
Sang pemimpin keluar dari bayang-bayang tekanan.
Sebelum Piala Dunia 2022 dimulai, Messi telah berusia 35 tahun. Banyak yang percaya ini adalah kesempatan terakhirnya untuk memenangkan Piala Dunia.
Tekanan pada pemain nomor 10 Argentina itu begitu besar sehingga setiap langkahnya selalu diperhatikan.
Namun, Messi memasuki turnamen di Qatar dengan ketenangan yang tidak biasa. Hilang sudah citra pemuda bertubuh kecil dengan kepala tertunduk putus asa setelah kekalahan tim nasional; sebaliknya, terlihat seorang pemimpin sejati—tenang namun berwibawa.
Baca Juga: Gol Tumit Semenyo Persembahkan Man City Juara Piala FA
Kekalahan mengejutkan 1-2 dari Arab Saudi di pertandingan pembuka telah mengguncang Argentina. Tetapi justru pada saat itulah Messi menjadi jangkar spiritual tim.
Ia mencetak gol pembuka dari titik penalti, dan bahkan setelah kekalahan, ia meyakinkan rekan setim dan penggemarnya bahwa Argentina akan bangkit kembali.
Dan mereka benar-benar membuktikan diri. Messi mencetak gol melawan Meksiko dalam pertandingan penting babak penyisihan grup dengan tembakan jarak jauh yang tenang.
Gol itu tidak hanya menyelamatkan Argentina dari eliminasi dini tetapi juga tampaknya melepaskan semua tekanan psikologis yang membebani tim.
Baca Juga: Shakira Menyebut Ronaldo dan Messi dalam Lagu Hits Terpanas
Sejak saat itu, Messi mulai menunjukkan permainan sepak bola terindahnyanya di Piala Dunia. Ia bukan lagi hanya seorang pengdribel yang memukau, tetapi juga seorang ahli taktik, memimpin tempo permainan dan menanamkan kepercayaan diri pada seluruh tim.
Artikel Terkait
Segel Tiket Liga Champions, Beban Aston Villa Menjelang Final Liga Europa Berkurang
Roma Vs Lazio: Rivalitas Abadi Berbeda Misi
Man City Tak Pesta Juara Piala FA, Guardiola Larang Satu Bir Pun
Xabi Alonso Kembali Melatih Setelah Kesepakatan Transfer tapi Bukan ke Real Madrid
Amerika Bebaskan Suporter 5 Negara Afrika dari Uang Jaminan Rp 216 Juta