SportlinkNews - Produsen alat olahraga asal Jerman, Adidas, kembali menghadapi gelombang kritik terkait karakteristik bola resmi yang dipakai untuk Piala Dunia 2026. Bola bernama Adidas Trionda tersebut dinilai memiliki pergerakan yang tidak stabil dan sulit diprediksi saat melayang di udara.
Para pengamat sepak bola mencatat laju si kulit bulat dapat berubah secara mendadak tergantung pada sirkulasi udara di dalam stadion. Fenomena teknis ini disinyalir menjadi penyebab utama di balik tingginya produktivitas gol melalui skema tendangan jarak jauh.
Sederet pemain bintang dunia tercatat sukses memanfaatkan anomali laju bola ini untuk membobol gawang lawan dari luar area penalti. Lionel Messi menjadi salah satu nama yang berhasil mengemas trigol ke gawang Aljazair melalui skema sepakan spekulasi tersebut.
Baca Juga: Di Balik Kemenangan Besar Belanda, Virgil van Dijk Kehilangan Rasa
Catatan serupa juga dibukukan oleh gelandang Swedia, Yasin Ayari, yang sukses dua kali merobek jala Tunisia melalui eksekusi jarak jauh. Tren ini berlanjut lewat gol tendangan bebas Nathan Saliba ke gawang Qatar serta sepakan keras Kylian Mbappe saat Prancis bersua Senegal.
Dalam cetak biru produksinya, Adidas menjelaskan teknologi Trionda menggunakan sistem penyatuan empat panel poliuretan lewat metode termal. Desain ini diklaim sebagai konstruksi panel paling minimalis sepanjang sejarah pergelaran turnamen akbar empat tahunan tersebut.
Pihak pabrikan awalnya mengklaim tekstur permukaan bola sengaja dirancang untuk mengoptimalkan stabilitas terbang serta daya cengkeram di lapangan. Namun, fakta di lapangan justru menunjukkan inovasi tersebut kerap menyulitkan antisipasi para penjaga gawang top dunia.
Baca Juga: Tampar Marshal, Marco Bezzecchi Dilarang Balap di GP Ceko
Mantan kiper tim nasional Inggris, Joe Hart, memberikan analisis mendalam mengenai dampak buruk lintasan bola terhadap refleks para penjaga gawang. Hal tersebut ia kemukakan saat mengamati gol Martin Baturina yang bersarang ke dalam gawang skuad Tiga Singa.
Menurut pandangan Hart, akselerasi bola yang tidak wajar kerap membuat kiper kehilangan momentum sepersekian detik untuk melakukan penyelamatan. Kesalahan dalam membaca arah datangnya bola membuat penjaga gawang kelas dunia sekalipun tampak melakukan antisipasi yang keliru.
"Saya menyadarinya pada bola-bola atas di pertandingan ini, saya sejujurnya merasa bola ini mengarah ke arah kiper jauh lebih cepat daripada perkiraan mereka saat bola baru meninggalkan kaki," ujar Hart saat bertugas sebagai pandit di BBC.
Baca Juga: Alex Marquez Akhirnya Mundur dari GP Ceko Demi Pemulihan Dirinya
Mantan pemain Manchester City itu mencontohkan respons canggung Jordan Pickford yang memilih menghalau bola menggunakan jempol ketimbang telapak tangan. Kejadian tersebut dinilai menjadi bukti sahih bahwa sang kiper terkejut dengan perubahan kecepatan bola yang mendadak.
"Sekranag apa yang Anda sadari dari momen ini adalah Jordan Pickford terbang menghalau bola. Anda akan bertanya mengapa dia menghalau dengan jempolnya dan bukan dengan telapak tangan? Itu karena dia merasa bola tiba-tiba sudah berada di dekatnya," ucapnya.