Hart juga menganalisis gol penyerang Prancis, Kylian Mbappe, yang bersarang ke gawang Senegal yang dijaga Edouard Mendy. Penjaga gawang sekelas juara Liga Champions tersebut bahkan terlihat mati langkah dan terlambat dalam mengangkat kedua tangannya.
Baca Juga: Jakmania Berharap Besar, Shin Tae-yong: Saya Tidak Bisa Menjamin Kemenangan
"Saat bola meninggalkan kakinya, itu adalah sebuah tembakan yang bagus, tentu saja, tetapi Edouard Mendy adalah seorang juara Liga Champions dan dia sama sekali tidak sempat mengangkat tangannya, dia kehilangan momentum," ujarnya.
Ketidakmampuan para kiper dalam mengukur waktu lompatan yang tepat diyakini murni disebabkan oleh hambatan aerodinamis dari desain bola terbaru. Hart menilai situasi pelik ini dialami secara merata oleh barisan penjaga gawang utama dari berbagai negara kontestan.
"Saya semakin sering menyadarinya pada skema bola-bola atas. Padahal mereka ini adalah para penjaga gawang kelas dunia yang tampil di level Piala Dunia," tuturnya.
Baca Juga: Jadwal Pertandingan Piala Dunia 2026 Grup G dan Grup H, Arab Saudi Siap Ladeni Spanyol
Kritik tajam serupa dialamatkan Hart pada momen gol pertama Messi ke gawang Aljazair yang dijaga oleh Luca Zidane. Kiper muda tersebut dinilai memiliki kapabilitas untuk mementahkan sepakan Messi jika pergerakan bola berjalan dalam kondisi normal.
"Saat bola meninggalkan kakinya, itu bukanlah sebuah tembakan yang sangat luar biasa. Itu tembakan yang bagus, tetapi Luca Zidane sebenarnya sangat mampu untuk menyelamatkan bola tersebut," ungkapnya.
Faktor eksternal dari keanehan bola dinilai membuat putra Zinedine Zidane tersebut gagal mendorong bola ke atas mistar gawang dengan sempurna. Kendati demikian, Hart optimistis performa lini pertahanan akan membaik seiring berjalannya waktu pelaksanaan turnamen.
Baca Juga: Tumbangkan Tunisia, Jepang Catat Rekor Kemenangan Baru di Pertandingan ke-1.000 Piala Dunia
"Namun sekali lagi, dia tidak mendapatkan momentum waktu yang tepat. Bola seolah-olah sudah menyergapnya sebelum dia sempat mengangkat tangan ke posisi yang benar. Dia akhirnya hanya mendorong bola itu daripada menepisnya ke atas mistar gawang."
"Saya rasa seiring berjalannya turnamen dan para pemain mulai terbiasa dengan atmosfer serta kecepatan bola, khususnya bola-bola spesifik Piala Dunia ini, kita akan melihat tembakan-tembakan seperti itu bisa diselamatkan."
Perdebatan mengenai kualitas bola resmi buatan Adidas sebenarnya merupakan polemik klasik yang kerap berulang di setiap edisi Piala Dunia. Publik tentu masih mengingat kontroversi bola Jabulani pada edisi 2010 di Afrika Selatan yang memiliki arah berbelok ekstrem.
Baca Juga: Belanda Libas Swedia, Ronald Koeman Mengaku Lebih Tenang
Desain delapan panel Jabulani yang terlalu mulus justru menciptakan efek turbulensi yang merugikan akurasi tangkapan para penjaga gawang kala itu. Sementara pada edisi 2022 di Qatar, bola Al Rihla dikritik karena bobotnya yang dinilai terlalu ringan.