Ketika karir mereka berakhir, mereka mungkin merasa kehilangan arah dan tujuan dalam hidup mereka.
Ditambah lagi, cedera fisik yang diderita selama karir mereka bisa memperburuk situasi dengan menimbulkan rasa sakit kronis dan ketidakmampuan untuk berpartisipasi dalam aktivitas fisik.
Berbagai faktor dapat menyebabkan depresi pada mantan pemain sepak bola.
Salah satunya adalah tekanan yang dialami selama karir mereka, baik dari klub, pelatih, atau bahkan diri sendiri untuk mencapai kinerja yang tinggi.
Baca Juga: Erick Thohir Beri Kode Keras Kepada Shin Tae-Yong
Setelah pensiun, hilangnya rutinitas ketat dan tekanan yang konstan dapat meninggalkan mereka merasa kosong dan tidak berguna.
Selain itu, identitas sosial yang kuat sebagai atlet profesional juga dapat menjadi faktor risiko.
Ketika karir berakhir, mereka sering kali merasa kehilangan identitas dan rasa penghargaan dari masyarakat.
Baca Juga: Cuma Dapat Izin sampai Lolos 8 Besar Piala Asia U-23 2024, Nathan Tjoe-A-On Kembali ke SC Heerenveen
Ini dapat mengarah pada perasaan tidak berharga dan depresi.
Dampak depresi pada mantan pemain sepak bola bisa sangat merusak.
Selain memengaruhi kesejahteraan mental dan emosional mereka, depresi juga dapat berdampak negatif pada hubungan interpersonal, pekerjaan, dan kesejahteraan fisik secara keseluruhan.
Baca Juga: Timnas U16 Indonesia Digenjot Latihan Fisik
Jika tidak ditangani dengan baik, depresi bisa memicu perilaku yang berisiko, seperti penyalahgunaan alkohol atau obat-obatan, dan bahkan berpotensi menyebabkan pemikiran bunuh diri.
Artikel Terkait
Derita Satria Muda Pertamina di Pekan Kesembilan IBL Tokopedia 2024
Jude Bellingham Pembeda El Clasico Real Madrid Vs Barcelona
Klasemen Pembalap ARRC Usai Pembatalan Race 2 di Sirkuit Zhuhai Cina