SportlinkNews - Cedera pada pinggang, tangan, lutut, kaki dan sebagainya pada atlet sering kali meninggalkan lebih dari sekadar rasa nyeri fisik.
Bagi sebagian besar, sensasi tersebut dapat berkembang menjadi rasa takut, kegelisahan, hingga penderitaan emosional yang sulit dijelaskan.
Penelitian terbaru dari Salk Institute for Biological Studies, yang dipimpin ahli saraf Sung Han, berhasil memetakan jalur saraf di otak tikus yang menjembatani rasa sakit fisik dengan respon emosional.
Hasil studi ini mengungkap bagaimana sinyal dari tulang belakang bisa memicu rasa sakit yang dirasakan tidak hanya secara fisik, tetapi juga emosional.
Dengan mengisolasi neuron yang mengandung Calcitonin Gene-Related Peptide (CGRP) di thalamus dan melacak hubungannya ke amigdala, pusat kendali rasa takut dan kecemasan.
Para peneliti menemukan bahwa jalur spinotalamik klasik ternyata memiliki cabang yang membawa komponen emosional nyeri.
Selama ini, buku teks medis memisahkan jalur sensorik dan emosional nyeri. Jalur cepat spinotalamik diketahui mengirimkan informasi ke thalamus dan korteks sensorik untuk mengenali lokasi dan intensitas cedera.
Sementara itu, jalur spinoparabrachial diyakini bertanggung jawab atas respon emosi dan kejutan. Namun, temuan dari tim Han membuktikan batas di antara keduanya tidaklah tegas.
Baca Juga: Nike Rilis Sepatu Phantom Terbaru Erling Haaland dengan Warna Berani
Dalam eksperimen, peneliti mematikan neuron CGRP pada tikus secara genetik. Hasilnya, tikus tetap bisa merasakan rangsangan panas atau tusukan jarum, tetapi berhenti menghindari lokasi di mana mereka pernah merasakan sakit.
Sebaliknya, ketika neuron ini diaktifkan dengan teknologi optogenetik, tikus menghindari ruangan tertentu meskipun tidak ada rangsangan fisik, indikasi jelas adanya rasa sakit emosional murni.
Penemuan ini memberi wawasan penting untuk pengobatan nyeri kronis seperti migrain, fibromialgia, atau stres pascatrauma yang seringkali memunculkan rasa sakit intens tanpa cedera fisik yang nyata.
Baca Juga: Kisah Pecco Bagnaia Selamat dari Pensiun Dini Berkat VR46 Valentino Rossi
Analisis genetik juga menunjukkan bahwa neuron CGRP di thalamus memiliki tanda genetik terkait migrain, dan obat penghambat CGRP telah terbukti efektif mengurangi serangan migrain.
"Proses rasa sakit bukan hanya tentang mendeteksi rangsangan, tetapi juga bagaimana otak memutuskan seberapa penting rasa sakit itu," jelas Sukjae Kang, penulis utama studi.
Temuan ini membuka peluang terapi baru yang dapat mengurangi penderitaan emosional tanpa menghilangkan fungsi peringatan dari rasa sakit.
Baca Juga: Benjamin Sesko: Saatnya Manchester United Terbang Tinggi Lagi
Ke depan, para peneliti berencana menelusuri jalur saraf ini pada spesies lain, termasuk manusia, serta menguji apakah jalur serupa juga berperan pada rasa sakit emosional seperti patah hati atau duka mendalam.
Bagi jutaan penderita nyeri kronis, penelitian ini menjadi harapan bahwa suatu hari nanti, rasa sakit bisa diatasi tanpa membiarkannya terus menghantui pikiran.
Artikel Terkait
Cedera Olahraga Terkait Bola: Perspektif Seorang Dokter
Apa yang Membuat Gegar Otak Menjadi Cedera Olahraga yang Mengerikan?
Apakah Cedera Atlet (Wanita) Berhubungan Dengan Siklus Menstruasi?
Mencegah Cedera Olahraga Senam
Baru Operasi setelah Dua Tahun Cedera, Begini Penampakan Bahu Bellingham