SportlinkNews - Dalam membentuk prestasi atlet, dibutuhkan kolaborasi dari banyak bidang. Selain program latihan, kesehatan, penanganan cedera, nutrisi, fisiologi, juga ada stres psikis, gaya hidup, dan lingkungan.
Di mana penanganan stres, gaya hidup, dan lingkungan adanya di sport psychology.
Sayangnya, dinamika psikologi atlet selama masa persiapan umum ini yang terkadang tidak disiapkan oleh cabang olahraga.
Hal tersebut diutarakan Ketua Bidang Sport Science & Iptek KONI Pusat Dr. Lilik Sudarwati, dalam seminar "Belajar Sport Science Bersama KONI" yang digelar secara daring, Sabtu, 22 Februari 2025.
Baca Juga: Ancelotti : Real Madrid Tidak Boleh Kehilangan Poin Lagi, Jika Ingin Kalahkan Barcelona
Padahal peran psikologi olahraga menjadi supporting role untuk keberhasilan atlet di tempat latihan maupun di pertandingan sangat penting.
"Karena 10-20% keberhasilan dari tempat latihan, 90-95% keberhasilan dari pertandingan. Membantu pelatih dalam mencapai target dan tujuan tim, serta memaksimalkan potensi yang dimiliki oleh atlet untuk mencapai puncak performa," katanya.
Tapi terkadang, saat persiapan umum, cabang olahraga tidak mempersiapkan atletnya untuk bagaimana menangani kekalahan.
Baca Juga: Jersey Baru Timnas Australia 2025: Perpaduan Budaya First Nations dan Inovasi Fesyen
Padahal itu yang mempengaruhi adalah mental, kepribadian atlet, psikologis.
"Karena terkadang publik melihat, kenapa kemarin main bagus sekarang mainnya jelek. Ada komentar seperti itu saja, jika tidak dipersiapkan secara psikologis bisa membuat atlet turun kepercayaan dirinya," ucapnya.
Karena itu, Lilik mengatakan bahwa pihaknya mencoba untuk melihat secara psikologis. Bahwa atlet juga manusia, yang perkembangannya secara penyeluruh.
Baca Juga: PSSI Evaluasi Performa Timnas Putri, Liga Putri Indonesia Ditargetkan Mulai 2027
Sehingga menurutnya dibutuhkan intervensi psikologi, di mana ada psychology support. Ini, lebih kepada kegiatan-kegiatan yang bersifat kasuistik, aktivitas-individu berada dalam setting konseling.
"Kemudian ada mental training atau latihan keterampilan mental. Ini masuk ke dalam program latihan, bersifat intervensi kelompok, misalnya dengan latihan bagaimana menangani kegelisahaan (anxiety)," ucapnya.
Lalu, untuk atlet yang cedera pun penanganan psikologinya juga selama ini tidak menyambung secara holistik.
Baca Juga: Héctor Bellerín Rilis Koleksi Jaket Terbaru: Perpaduan Mode dan Keberlanjutan
Setelah di medis ditangani, Lilik melihat tidak ada program latihan untuk mereka yang cedera.
"Padahal setelah sembuh cedera, banyak lagi masalahnya. Karena untuk bisa meyakinkan dirinya sendiri bahkan dia sudah siap bertanding lagi, itu dari psikisnya, dan tahapan-tahapan seperti itu perlu sekali," ungkapnya.
Ada sembilan kecakapan mental atlet yang dibagi dalam tiga level. Pertama, people skill, goal & comitmen, dan attitute sebagai basic skill.
Baca Juga: Patrick Kluivert Seleksi Ketat Asisten Pelatih Lokal, PSSI Targetkan Direktur Teknik Baru Akhir Februari
"Berbicara skill, ini adalah kemampuan yang harus diajarkan, bagian dari fundamental. Apa sih motivasi atlet ini? misalnya," ujarnya lagi.
"Level dua, mental imagery, self talk di prepatory skill. Baru yang ketiga, performance skill, di mana ada concentration, managing emotions, dan managing anxiety seperti menangani kenapa atlet tiba-tiba blank di tengah pertandingan," tambah Lilik.
Apa yang harus dilakukan di persiapan umum, yakni melakukan assesment psikologi.
Baca Juga: Nasib Indra Sjafri Sebagai Pelatih Tim Nasional Indonesia U20 Diumumkan PSSI Besok
Di mana tujuannya mengetahui profil dan karateristik atlet, mengukur kemampuan atlet untuk mengerjakan tugas, serta melihat kebutuhan.
"Karena jika tidak bisa melihat karakternya dari awal, dampaknya besar. Coba saja kalau seorang atlet sudah tidak percaya dengan pelatihnya sejak awal, tidak akan ada kolaborasi yang bagus," imbuhnya menjelaskan.
Kemudian ada periodesasi latihan. Di sini kerangka kerja konseptual untuk memaksimalkan manfaat latihan, baik fisik maupun psikologis, dengan mengintegrasikan latihan dan psikologis menjadi satu paket.
Baca Juga: Proses Naturalisasi Jairo Riedewald Belum Bisa Dilanjutkan
"Di sini fokus latihan mentalnya adalah untuk mengembangkan keterampilan dasar, attitute motivasi interpesona. Biasanya dalam persiapan umum, fokus latihan adalah fisik, tapi bagaimana menangani bila atlet bosan," tanya Lilik.
"Periodedasi umum dalam persiapan psikologis adalah dengan menarik banyak hal-hal positif ke dalam diri atlet, itu penting kalau mau bertanding," tukasnya.
"Karena lingkungan dalam kompetisi itu kan sesuatu yang negatif karena ada tekanan, karena atlet punya target yang diberikan, jadi ketika mereka butuh menangani kebosanan ada peran psikologis olahraga di situ," pukasnya lagi.
Bila sudah di level atas, maka kecenderungan dalam psikologi olahraga adalah personalize treatment nantinya.