SportlinkNews - Dalam satu kesempatan, Menteri Pemuda dan Olahraga Dito Ariotedjo meminta federasi olahraga menerapkan penggunaan sport science hingga sport psikologi dalam melakukan pembinaan kepada atlet.
"Mewajibkan semua cabor dan atletnya itu kita sudah pantau dengan menggunakan sport science hingga sport psikologi," ujarnya.
"Tidak ada lagi atlet yang berlatih secara konservatif atau klasik melainkan sudah melibatkan penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi," tegas Menpora Dito.
Baca Juga: Menpora Dito: Wajib Terapkan Sport Science dan Sport Psikologi Menuju Olimpiade Paris 2024
Terkait dengan hal tersebut, pendekatan dan penerapan psikologi olahraga terhadap atlet juga memberikan pengaruh besar dalam menunjang prestasi atlet.
"Penerapan psikologi olahraga di Indonesia telah menjadi bagian yang semakin penting dalam pengembangan dan peningkatan performa atlet," ujar Psikolog Olahraga Dr. Lilik Sudarwati A., S.Psi., M.H, kepada SportlinkNews.
Lilik yang saat ini dipercaya sebagai Koordinator Tim Psikolog Ad Hoc Bulu Tangkis Indonesia untuk Olimpiade 2024 Paris menjelaskan beberapa contoh penerapan psikologi olahraga terhadap atlet di Indonesia.
Menurutnya, penerapan psikologi olahraga bisa memberikan peningkatan motivasi. "Psikolog olahraga membantu atlet untuk menjaga motivasi Psikolog tinggi selama latihan dan kompetisi."
"Psikolog bekerja dengan atlet untuk menetapkan tujuan yang realistis dan memberikan dukungan serta motivasi yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan tersebut," ujarnya.
Selain itu, perempuan kelahiran Gresik ini juga menyebutkan psikologi olahraga juga bisa mendongkrak kepercayaan diri atlet.
"Psikolog olahraga membantu atlet untuk membangun keyakinan diri yang kuat melalui teknik pembentukan mental yang positif dan penggunaan afirmasi."
"Keyakinan diri yang tinggi dapat membantu atlet menghadapi tantangan dengan lebih percaya diri dan mengoptimalkan performa," ungkapnya.
Pressure atau tekanan yang tinggi saat bertanding juga merupakan momok yang menakutkan bagi atlet.
"Psikolog olahraga membantu atlet untuk mengelola tekanan yang timbul dari berbagai aspek seperti persaingan tingkat tinggi, harapan dari publik, dan target pencapaian," ujar mantan atlet timnas Piala Uber 1988-1990.