SportlinkNews - Di antara nama-nama besar legenda bulutangkis Indonesia, ada satu nama yang bersinar namun kerap luput dari sorotan. Dia adalah Ivana Lie, sosok srikandi bulutangkis Indonesia
Terlahir dengan nama Ivana Lie Ing Hoa di Bandung, 7 Maret 1960, mojang Priangan ini dikenal sebagai pemain serba bisa.
Di era 1980-an, ketika bulutangkis Indonesia sedang menikmati masa keemasan, Ivana hadir sebagai salah satu ujung tombak.
Ia tampil garang di nomor tunggal putri, tangguh di ganda putri, dan sangat berbahaya di sektor ganda campuran.
Baca Juga: Pemanfaatan Teknologi untuk Performa Atlet
Perjalanan prestasinya di dunia bulutangkis mulai mendapatkan perhatian pada akhir tahun 70-an, hingga dia akhirnya dipanggil masuk pelatnas PBSI pada 1976.
Satu per satu title kejuaraan di level internasional berhasil diraihnya, dan perhatian mulai beralih kepadanya ketika ia sukses merebut gelar juara Denmark Open dan meraih medali emas SEA Games di tahun yang sama pada 1979.
Setahun kemudian, performanya pun menanjak hingga menyentuh babak final Kejuaraan Dunia, meski pada akhirnya belum bisa meraih juara.
Puncak kemilaunya ada Indonesia Open pada 1983, di mana ia mencatatkan sejarah dengan berhasil menjuarai semua sektor utama, yakni tunggal putri, ganda putri, dan ganda campuran.
Baca Juga: Hasil Liga 1: Persis Solo Taklukkan PSBS Biak, Dua Gol Bersarang di Gawang John Pigai
Tahun 1983, ia mencatat sejarah sebagai peraih double winner, memenangi tunggal putri dan ganda campuran bersama Christian Hadinata.
Tahun 1986, ia kembali juara ganda putri bersama Verawaty, dan setahun kemudian dengan Rosiana Tendean.
Di level multievent pencapain tertingginya bukan hanya di SEA Games tetapi juga di level Asia, yakni Asian Games dengan meraih podium tertinggi di ganda campuran pada Asian Games 1982.
Baginya itu merupakan pencapaian yang tak terlupakan, terutama saat mereka menang dan naik podium, Bendera Merah Putih naik, dan lagu 'Indonesia Raya' berkumandang lantang.
Baca Juga: Tidak Mau Bermain Imbang Lawan Semen Padang FC, Paul Munster Siapkan Pemainnya dengan Latihan Khusus
Hal itu merupakan momen bulutangkis yang menurutnya sangat berkesan dan paling menyenangkan.
Tapi menjadi juara pada masa itu bukanlah jaminan untuk hidup yang nyaman. Ivana masih ingat betul, bahkan setelah meraih emas di Asian Games, dirinya bersama rekan-rekannya pulang tanpa ada bonus.
"Hanya medali dan ucapan 'terima kasih' dari negara," dikutip dari buku "Dari Kudus Menuju Prestasi Dunia".
Namun, hal itu tidak mengurangi kecintaanya kepada Merah Putih dan bulutangkis. Meskipun dirinya memiliki kisah pilu, ketika masa-masa perjuangannya memperjuangkan status kewarganegaraannya yang tidak jelas.
Baca Juga: Harry Kane Patahkan Kutukan Trofi Saat Bayern Munich Pastikan Gelar Bundesliga
Hingga dirinya tidak bisa berangkat untuk mengikuti kejuaraan Asia junior karena terhalang masalah ini. Saat itu, rasa bangganya memakai jaket bertulisan Indonesia di punggungnya mendadak sirna.
Masalah kewarganegaraannya itu tak kunjung selesai hingga lima tahun lamanya.
Bola balik ke luar negeri atas nama Indonesia dengan bermodalkan selembar kertas surat jalan pengganti paspor, sebagai tanda bahwa dirinya adalah warga negara Indonesia.
Namun, selama itu pula dirinya selalu mengingat pesan-pesan dari seniornya, Rudy Hartono. "Kalau mau menang harus bekerja lebih keras. Kalau orang lain lari dua jam, maka kamu harus lari empat jam."
Baca Juga: Persija Tampil Apik Lawan Bali United, Ricky Nelson: Skema Berjalan Sesuai yang Kami Latih
Kata-kata itu yang memicunya terus berlatih dan berjuang. Apalagi dipikirannya selalu terpatri wajah sang ibu yang selalu menguatkan Ivana kecil ketika merasa lelah maupun jenuh.
Sering terlintas momentum saat kondisi keluarnya sulit, waktu di mana hari ini ada beras dan besok tidak ada.
Kenangan itu yang membuatnya bertahan dan sering kali Ivana menitikkan air mata karena teringat.
Hingga akhirnya perjuangannya terbayarkan setelah dirinya bersama Tim Thomas dan Uber Indonesia diterima oleh Presiden RI saat itu, Soeharto di Istana Negara, beberapa bulan sebelum Asian Games 1982.
Baca Juga: Tunjukkan Permainan Brilian, Borneo Hornbills Jegal Bima Perkasa Jogja
Ketika itu lah, Ivanna akhirnya menerima Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia (SBKRI), setelah Presiden bertanya kenapa dia tidak punya KTP.
Meski gantung raket pada 1990, Ivana tak pernah benar-benar pergi dari bulutangkis.
Ia pernah melatih di Pelatda Bandung dan Pelatnas Jakarta, menjadi komentator TV, hingga kini menjabat sebagai Staf Ahli Olahraga di Kementerian Pemuda dan Olahraga.
Ia juga memperkenalkan konsep permainan bulutangkis anak-anak bernama bad-mini, dan aktif sebagai pencari bakat dalam Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulutangkis.
Artikel Terkait
Legenda Jerman Lothar Matthaus Kecantol Model Daun Muda
Djadjang Nurdjaman, Legenda Persib yang Kini Dipercaya Membina Pemain Muda Maung Bandung
Legenda Real Madrid Sebut Nama Pemain Barcelona, tapi Bukan Lewandowski atau Lamine Yamal
Legenda Hidup Basket Indonesia Ali Budimanysah Ungkap Perbedaan Era di Lapangan
Legenda Hidup WRC Carlos Sainz Sr Ramaikan Pilpres FIA, Begini Sepak Terjangnya