SportlinkNews - Dunia olahraga Indonesia kehilangan salah satu putra terbaiknya, khususnya di olahraga tradisional tanah air, yakni pencak silat.
Tokoh legendaris yang dikenal sebagai Bapak Pencak Silat Dunia, Mayjen TNI (Purn) Dr. (HC) H. Eddie Marzuki Nalapraya, telah wafat pada Selasa pagi, 13 Mei 2025, di RS Pondok Indah, Jakarta, pada usia 93 tahun.
Latar belakang Eddie Marzuki memang militer dan birokrat, namun dia lebih dari itu.
Ia merupakan simbol perjuangan panjang untuk mengangkat martabat bela diri asli Indonesia, pencak silat ke kancah internasional, hingga kini mulai diakui dunia.
Baca Juga: 5 Tim Liga 1 Masih Terancam Degradasi, Persis Solo hingga Semen Padang Belum Aman
Dia tidak berjuang dari secara diplomasi saja, tetapi Eddie turun ke jalanan. Ketertarikannya pada pencak silat terjadi pada 1947, ketika terjadi Agresi Militer Belanda, saat dirinya melihat bagaimana para pendekat silat turun ikut berjuang demi kemerdekaan bersama pasukan gerilya.
Kecintaannya itu membawa Eddie akhirnya pada puncak pimpinan IPSI DKI Jakarta pada tahun 1978.
Saat itu, masih banyak yang menganggap silat adalah olahraga kampungan karena hanya orang kampung yang bisa memainkannya.
Namun, lewat pendekatan modern dan terbuka, dia mulai memperkenalkan silat ke masyarakat luas. Eddie menggelar Silaturahmi Pencak Silat Jakarta yang dihadiri puluhan ribu orang, yang juga mencintai silat.
Baca Juga: Carlo Ancelotti Resmi Latih Brasil, Dikontrak Fantastis dan Dibayar Rp 4,6 Miliar per Hari
Di acara itu, dia memberikan kebebasan semua orang yang ingin beraksi atau hanya menonton karena penasaran untuk bergabung di dalamnya.
Kepercayaan pun terus mengalir, hingga ke puncak pimpinan pusat. Selama lebih dari 20 tahun, dia dipercaya untuk memegang dapuk mimpinan PB IPSI sebagai Ketua Umum.
Di situlah, Eddie berkembang menjadi arsitek utama perkembangan pencak silat, baik sebagai budaya maupun olahraga berstandar internasional.
Di awal kepengurusannya di era 1980-an, Eddie menggagas berdirinya Persekutuan Pencak Silat Antarbangsa (Persilat).
Federasi silat internasional yang mempertemukan organisasi silat dengan berbagai aliran mulai dari Indonesia, Malaysia, Singapura, hingga Brunei.
Baca Juga: Peluang Persis Solo Bertahan di Liga 1, Ini 4 Skenarionya
Eddie pun terpilih sebagai Presiden pertama dan menjadikan Persilat sebagai alat diplomasi budaya. Berkat kegigihannya, silat resmi dipertandingkan di SEA Games untuk kali pertama pada 1987 di Jakarta.
Dari situ, pencak silat lebih berkembang lagi dan banyak dipertandingkan di ajang regional lainnya. Tapi, langkah Eddie tidak berhenti hanya di kawasan Asia Tenggara yang kental akan unsur Melayunya.
Dia memperluas jangkauannya untuk bisa lebih memperkenalkan pencak silat dengan menginisiasi kejuaraan dunia silat di Eropa.
Hal itu membuatnya mendapat julukan Bapak Pencak Silat Eropa di Swiss tahun 2008.
Baca Juga: Kontrak Masih Panjang, Marselino Ferdinan Berpotensi Masuk Skuad Utama Oxford United Musim Depan
Puncak dari perjuangannya terjadi pada 12 Desember 2019, ketika UNESCO secara resmi menetapkan pencak silat sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia.
Eddie pun didapuk menjadi pembina Tim "Road to UNESCO & Olympic" karena dirinya tanpa pamrih mengabdikan diri selama lima tahun untuk mewujudkan pengakuan global ini.
Kisah Eddie dan silat tidak berhenti meski usianya sudah memasuki senja. Pada Sarasehan Pencak Silat Nasional 2024, dia menyampaikan pesannya, bahwa pencak silat harus terus dikelola secara profesional agar pengakuan dunia tidak menjadi sia-sia.
"Pencak silat dulunya dianggap kampungan. Sekarang, pencak silat mengharumkan nama bangsa. Tapi ingat, pengelolaan yang baik adalah kunci agar silat tetap bertahan dan berkembang di panggung dunia," ujar Eddie kala itu.
Baca Juga: Mitre Rilis Bola Resmi Final FA Cup 2024-2025, Tampilkan Desain Eksklusif untuk Wembley
Pada September 2022, Eddie pun menerima penghargaan KONI Lifetime Achievement Award in Sports dari Ketua Umum KONI Pusat, Letjen TNI (Purn) Marciano Norman.
Hal ini membuat Eddie terharu, karena pada dirinya percaya perjuangannya tidak akan tergerus dan akan diteruskan.
Tak terhitung penghargaan dan gelar kehormatan yang diterimanya, termasuk Tanda Kehormatan Bintang Mahaputera Pratama, Doctor of Philosophy dari Asia Pacific Open University Malaysia, hingga Anugerah Budaya dari Universitas Indonesia.
Namun, warisan terbesarnya bukanlah gelar, melainkan sebuah warisan tak kasat mata: rasa bangga bangsa Indonesia terhadap identitasnya sendiri melalui pencak silat.
Baca Juga: PB ESI Umumkan Skuat Esports Indonesia untuk SEA Games 2025, Usung Target Realistis
Kini, dunia kehilangan seorang pejuang budaya. Tapi semangat Eddie Marzuki Nalapraya tetap hidup di setiap jurus yang dilestarikan, setiap kejuaraan yang digelar, dan setiap anak bangsa yang menjadikan silat sebagai jalan hidupnya.
Selamat jalan, Bapak Pencak Silat Dunia.
Jasamu tidak hanya menorehkan sejarah, tetapi juga mengangkat martabat bangsa.