Indonesia memiliki banyak peluang untuk menghabisi Korea Selatan tanpa harus melalui adu penalti. Ini menjadikan tim U-23 Indonesia bertambah pengalaman dan matang secara tim maupun individu.
Kedalaman skuat. Ini perlu dimiliki Indonesia, terutama di level U-23 dan senior. Dalam pertandingan semifinal, sebagai contoh, kehilangan Rafael Struick sedikit mengurangi ancaman Indonesia U-23 terhadap Uzbekistan.
Ramadhan Sananta penyerang yang berbeda tipe dengan Struick yang memainkan peran sebagai penyerang false nine. Struick pun mampu mengolah umpan daerah atau pun umpan jauh yang dilayangkan kepadanya seperti golnya melawan Korea Selatan.
Baca Juga: Tes MotoGP Jerez: Jorge Martin Alami Kendala di Motor Ducatinya
Kedua, kedalaman skuat akan memudahkan pelatih Shin Tae-yong untuk memilih dan menerapkan taktik untuk mendominasi lawan di lapangan. Ketiga, kedalaman skuat akan berguna ketika harus menyesuaikan diri dengan situasi terakhir dan formasi permainan tim lawan.
Dalam perjalanan di kejuaraan kompetitif dan proses pengembangan, tim U-23 Indonesia akan berkembang mengikuti dua pola. Pertama, untuk proses pengembangan, tim U-23 Indonesia berintikan pemain yang telah bermain di level senior, sehingga hal ini dapat mematangkan pemain dalam aspek teknik, skill dan pemahaman taktik, daya baca permainan lawan, efektivisasi peluang.
Jerman di Piala Dunia 2010 yang diperkuat pemain muda, seperti Mesut Ozil (Werder Bremen), Mats Hummel (Borussia Dortmund) Toni Kroos (Bayer Leverkusen), Thomas Mueller (Bayern Munchen, Marco Reus (Borussia Dortmund), Mario Goetze (Borussia Monchengladbach), Ilkay Guendogan (FC Nuremberg) untuk beberapa nama yang berusia di bawah 23 tahun, mampu meningkatkan level permainan.
Fokus Vs Irak
Sekarang timnas harus bisa melupakan Uzbekistan dan fokus melawan Irak dalam perebutan tempat ketiga. Jika menang, Timnas U-23 akan mendampingi Uzbekistan dan Jepang yang sudah dipastikan lolos ke Olimpiade Paris 2024.
Pertarungan ini akan menarik, karena timnas memiliki kesempatan. Meski bukan yang terakhir.
Dengan berhasil mengalahkan Korea Selatan, yang mengalahkan Jepang, dan tim Jepang merangsek Irak, secara matematika Indonesia bisa menekuk Irak, seperti menghancurkan tim Yordania.
Baca Juga: Conor McGregor Resmi Menjadi Pemilik Bare Knuckle Fighting Championship
Tapi, sepak bola bukan matematika. Tidak ada yang pasti. Terlebih Timnas U-23 dipastikan tanpa kapten Rizky Ridho yang terganjal sanksi.
Kalau kalah, berarti selesailah perjuangan timnas U-23 di perhelatan Piala Asia U-23 tahun ini. Tinggal mengejar peluang terakhir mewalan Guinea (Afrika), untuk mendapat kesempatan tiket terakhir Olimpiade Paris 2024.
Setelah itu, baru secara resmi bisa bicara pasca bulan madu dengan STY, bagaimana membangun sepak bola Indonesia, yang bukan saja sebagai kegiatan olah raga tetapi sebagai industri sepak bola.