Ilustrasi seorang anak sedang menendang bola di lapangan rumput
SportlinkNews - Banyak orang mengira fleksibilitas cuma soal meregangkan otot sebelum latihan. Padahal, rahasianya jauh lebih kompleks dari apa yang dibayangkan.
Setiap cabang olahraga punya cara sendiri seperti penari klasik, pesenam, petinju, atau pemain sepak bola, semuanya melatih kelenturan berbeda. Siapa yang benar? Jawabannya terletak pada strategi, disiplin, dan persiapan tubuh.
Kelenturan sebuah sendi tidak datang begitu saja. Faktor genetik seperti bentuk sendi, posisi ligamen dan tendon, hingga perbedaan jenis kelamin berperan besar. Wanita umumnya lebih lentur, tapi fleksibilitas juga bisa dilatih dan jika diabaikan, akan menurun seiring usia.
Baca Juga: Fabio Quartararo Terlihat Frustasi dengan Kinerja Yamaha V4 di Tes Pramusim Buriram
Atlet top pun punya rahasia. Penari dan pesenam profesional melakukan pemanasan, peregangan sebelum latihan, bahkan pendinginan setelahnya. Atlet atletik juga menyiapkan tubuh sebelum lomba, gerakan mendadak dengan amplitudo tinggi tanpa persiapan bisa berujung cedera.
Peregangan bukan sekadar rutinitas, tapi perlindungan untuk otot dan pencegah cedera. Otot yang lentur mampu menahan tarikan lebih baik daripada otot kaku sama seperti karet yang bisa meregang lebih jauh dibanding senar.
Salah satu kesalahan umum adalah menganggap latihan beban membuat otot kaku. Faktanya, cara latihan yang benar, dengan rentang gerak penuh dan dilengkapi peregangan, tetap membuat tubuh lentur.
Baca Juga: Debut Manis Aldi Mahendra di WorldSSP Australia Bawa Tim Raih Double Podium
Sebaliknya, gerakan setengah atau mengabaikan peregangan justru mengurangi fleksibilitas. Beberapa cabang olahraga seperti sepak bola, basket, atau rugby seringkali kaku karena pelatih mengabaikan latihan fleksibilitas sejak dini, dan cedera pun muncul saat gerakan tiba-tiba dengan amplitudo besar.
Lalu, bagaimana cara melatih fleksibilitas? Ada beberapa metode:
Baca Juga: Satria Muda Bandung Mempermalukan Dewa United, Catat Rekor Buruk dalam Sejarah Klub
1. Peregangan Statis Pasif
Ini adalah metode yang paling dikenal. Dalam posisi tertentu, tubuh rileks dan berat badan digunakan untuk membantu peregangan. Cocok dilakukan setelah setiap sesi olahraga. Bisa juga ditambah beban ringan atau bantuan partner, asalkan dilakukan dengan hati-hati.
2. Peregangan Aktif-Pasif
Gabungan peregangan pasif dan aktif, dilakukan antara set latihan atau setelah sesi. Otot dikontraksikan selama 10 detik, kemudian rileks dan diregangkan selama 20 detik. Bisa juga menggunakan kontraksi kelompok otot antagonis; misalnya kontraksi quadriceps akan meregangkan hamstring.
3. Peregangan Aktif-Dinamis
Metode ini, bersama peregangan balistik, dianggap paling efektif untuk persiapan latihan. Caranya:
Artikel Terkait
5 Peregangan Teratas yang Harus Anda Lakukan Sebelum Berjalan
Efek Peregangan Statis pada Kekuatan Otot dan Hipertrofi
Haruskah Peregangan Sebelum Berolahraga? Setelahnya? Tidak Boleh? Berikut Ini yang Perlu Anda Ketahui
Bagaimana Pesepak Bola Menceritakan Kisah Melalui Perhiasan
Ilmuwan Klaim Pesepak Bola Profesional Sebenarnya Iindividu yang Super Pintar