- Erwin Muhammad
Siwo PWI Pusat
SportlinkNews - Kekalahan Garuda di tanah Arab bukan akhir perjalanan, melainkan panggilan untuk membangun fondasi sepak bola yang lebih kokoh dan berjangka panjang.
Harapan besar publik sepak bola Indonesia untuk melihat Garuda terbang di panggung Piala Dunia kembali pupus di tanah Arab.
Dua kekalahan beruntun dari Arab Saudi dan Irak pada putaran keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 di Jeddah menjadi babak pahit yang harus ditelan dengan kepala tegak.
Baca Juga: Kata-kata Jay Idzes Usai Timnas Indonesia Dikalahkan Irak
Mimpi yang dirajut dengan doa, kerja keras, dan gelombang optimisme rakyat Indonesia sementara ini harus kembali tertunda.
Namun, kegagalan di Jeddah bukan sekadar urusan skor atau peluang yang tak menjadi gol. Ia adalah cermin betapa panjang dan terjal jalan yang harus ditempuh sepak bola nasional untuk benar-benar sejajar dengan kekuatan besar Asia.
Semangat juang para pemain memang tidak luntur, kualitas permainan meningkat, tapi perbedaan dalam hal kedalaman skuad, pengalaman, dan kematangan strategi masih terlihat mencolok di setiap lini.
Baca Juga: Suporter PSM Makassar Berharap Besar Pada Sang Pelatih Caretaker Ahmad Amiruddin
Federasi dan pelatih tentu tidak bisa berlindung di balik alasan nasib atau tekanan laga tandang. Evaluasi menyeluruh perlu dilakukan—mulai dari pembinaan usia muda, sistem kompetisi domestik, hingga regenerasi pemain tim nasional.
Piala Dunia bukanlah tujuan yang bisa diraih dengan ledakan semangat sesaat, melainkan buah dari sistem yang tertata, konsisten, dan berkelanjutan.
Indonesia perlu belajar dari negara-negara lain yang juga pernah mengalami jalan panjang menuju Piala Dunia. Kanada harus menunggu 36 tahun setelah debutnya pada 1986 sebelum kembali lolos ke Qatar 2022.
Baca Juga: Musuh Lama Bentrok, Diego Costa dan Skrtel Ribut di Lapangan saat Chelsea vs Liverpool Legends
Maroko pernah absen dua dekade sebelum akhirnya tampil kembali dan bahkan menorehkan sejarah sebagai semifinalis di 2022. Islandia, negara kecil berpenduduk 350 ribu jiwa, baru merasakan atmosfer Piala Dunia pada 2018 setelah 64 tahun menunggu.
Semua kisah itu menunjukkan satu hal: tidak ada jalan pintas menuju panggung dunia. Keberhasilan lahir dari konsistensi, investasi jangka panjang, dan sistem pembinaan yang menyeluruh.
Artikel Terkait
Suporter Indonesia Kecewa, Tagar Kluivert Out Menggema
Timnas Indonesia Gagal ke Piala Dunia, Ini Komentar Erick Thohir
Terekam Momen Emosional Thom Haye Menangis, Warganet Terharu
Real Madrid Peringati Tujuh Dekade Debut Santiago Bernabeu di Piala Eropa
PON Bela Diri 2025 Jadi Proyek Percontohan Model Multi-Event Tematik KONI