SportlinkNews - Kemajuan kompetisi bolabasket nasional tidak hanya diukur dari kualitas permainan di lapangan, tetapi juga dari komitmen menjaga nilai sportivitas.
Di tengah meningkatnya level persaingan dan performa individu, Indonesian Basketball League (IBL) menegaskan keseriusannya dalam melindungi kompetisi dari ancaman praktik match fixing.
Sejak 2023, IBL menjalin kemitraan strategis dengan Genius Sports untuk memperkuat upaya pencegahan pengaturan pertandingan melalui program tahunan bertajuk Integrity Camp.
Baca Juga: Bawa Pulang Empat Gelar Juara, Indonesia Juara Umum Thailand Masters 2026
Program ini menjadi ruang edukasi dan sosialisasi bagi seluruh pemangku kepentingan liga, mulai dari pemain, manajemen klub, hingga perangkat pertandingan.
Langkah preventif tersebut diambil sebagai bentuk pembelajaran dari masa lalu.
Seperti yang diketahui, bila IBL sempat dihadapkan pada kasus match fixing pada 2018 dan 2021 yang berujung pada sanksi berat berupa larangan seumur hidup bagi pihak-pihak yang terlibat.
Baca Juga: Manchester City Masih Belum Menyerah Berburu Gelar Liga Primer
Sejak saat itu, pengawasan diperketat, termasuk dengan pemanfaatan sistem peringatan berbasis teknologi untuk mendeteksi potensi pertandingan mencurigakan.
Integrity Camp tahun ini dibuka oleh Ketua Komite Etik dan Disiplin IBL, Fritz Siregar, yang juga menjabat Ketua Badan Legal, Etik, dan Disiplin DPP Perbasi.
Materi utama disampaikan oleh Stephen Emberson, Head of Integrity Intelligence & Education Genius Sports, dalam sesi yang digelar secara daring.
Baca Juga: Arsenal Resmi Lepas Oleksandr Zinchenko ke Ajax
Direktur Utama IBL, Junas Miradiarsyah, menegaskan bahwa integritas menjadi fondasi utama kompetisi. "IBL berkomitmen memastikan liga berjalan secara bersih dan berintegritas."
Dalam pemaparannya, Emberson menjelaskan empat pilar utama dalam betting integrity, yakni match fixing, spot fixing, inside information, dan participant breaches.
Keempatnya merupakan bentuk pelanggaran serius yang dapat merusak kepercayaan publik terhadap kompetisi.
Baca Juga: Performa Tak Konsisten, Arbeloa Butuh Waktu Bangun Real Madrid
Match fixing merujuk pada manipulasi hasil pertandingan demi keuntungan taruhan. Spot fixing adalah pengaturan pada momen atau aksi tertentu dalam pertandingan.
Sementara inside information berkaitan dengan penyalahgunaan informasi internal yang seharusnya tidak diketahui publik. Participant breaches sendiri mencakup pelanggaran peserta kompetisi, termasuk bertaruh pada laga yang mereka ikuti.
Emberson juga menyoroti berbagai faktor yang dapat menyeret individu ke dalam pelanggaran, mulai dari ketidaktahuan, tekanan lingkungan, hingga keterlibatan dalam aktivitas perjudian.
Baca Juga: Shayne Pattynama Optimistis Timnas Futsal Indonesia Taklukkan Vietnam
"Kalian semua memiliki tanggung jawab untuk menjaga liga tetap sehat dan memanfaatkan jalur pelaporan yang tersedia," imbuhnya. Ia juga menekankan kewajiban seluruh pihak untuk bersikap kooperatif.
"Setiap peserta wajib membantu dan bekerja sama secara jujur serta beritikad baik dalam proses penyelidikan," tukas Emberson.
Melalui Integrity Camp, IBL berharap kesadaran kolektif terhadap bahaya match fixing semakin meningkat, sehingga kompetisi dapat terus berkembang dalam koridor fair play dan profesionalisme.
Artikel Terkait
IBL 2026 Baru Saja Mulai Tapi Brian Rowsom Mundur sebagai Pelatih Rans Simba Bogor
Duet Tondi Raja Syailendra dan Harry Prayogo Merapat ke Tangerang Hawks Siap Bersaing di IBL 2026
Pelita Jaya Masih Perkasa di Puncak Klasemen IBL 2026 Pekan Ketiga
Rio Disi Tampil Apik Sejak IBL 2026 Bergulir, Tapi Pelatih Dewa United Banten Sampaikan Pesan Penting
IBL All Star 2026 Kembali Digelar di Bandung pada 11 April