PON Bela Diri 2025, Inovasi Berani yang Masih Butuh Kepastian Regulasi

Gbonk Anaqy Setyawan, Sportlink News
- Jumat, 20 Juni 2025 | 21:47 WIB
Pencak Silat siap mendunia (Andi/SportlinkNews)
Pencak Silat siap mendunia (Andi/SportlinkNews)

SportlinkNews - Penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) Bela Diri 2025, Oktober mendatang di Kudus, Jawa Tengah, menjadi salah satu inovasi besar dalam tatanan kompetisi olahraga nasional. 

Namun, meski disambut sebagai terobosan positif, gelaran ini masih menyisakan sejumlah catatan penting, baik dari segi manfaat maupun potensi persoalan yang harus diantisipasi.

Pengamat olahraga nasional, Djoko Pekik, menyebut PON Bela Diri sebagai solusi atas beban penyelenggaraan PON reguler yang selama ini dianggap terlalu besar.

Banyaknya cabang olahraga yang ingin dipertandingkan dalam satu hajatan PON sering kali menimbulkan kendala teknis dan anggaran.

Baca Juga: Voting Dibuka: Suporter Tentukan 30 Pemain Liga Indonesia All Star untuk Piala Presiden 2025

"PON selama ini berat karena semua cabor ingin masuk. Maka perlu solusi seperti PON Bela Diri yang lebih spesifik, mencontoh format tingkat Asia seperti Asian Indoor and Martial Arts Games (AIMAG) dan ASEAN Beach Games," jelas Djoko saat dihubungi, Jumat, 20 Juni 2025.

Pemisahan ini, menurutnya, akan lebih menyelaraskan PON dengan semangat Olimpiade, yang pada 2028 NTB-NTT akan fokus pada cabor-cabor resmi Olimpiade.

Cabor bela diri yang tak masuk Olimpiade, bisa tetap mendapat ruang kompetisi terukur lewat PON Bela Diri.

Meski demikian, Djoko menekankan pentingnya kepastian regulasi. 

Baca Juga: Mugello Jantungnya Balap Motor Italia yang Lahirkan Banyak Pembalap Bertalenta

"Kalau sudah ada PON Bela Diri, jangan sampai nanti cabor-cabor yang sama tetap dimainkan di PON reguler 2028. Itu malah menambah beban daerah, sebab ini berhubungan dengan anggaran pelatda," ujarnya.

Kemudian, PON Beli diri, dinilai Djoko juga harus memiliki kualitas dan daya tarik. Jangan hanya sekedar diselenggarakan, tidak ada daya tarik tentu menurutnya akan mengurangi kualitas pertandingan. 

"Kalau tanpa daya tarik perhatian pemerintah daerah akan rendah, sehingga nanti, bila dinilai tidak signifikan bisa jadi atletnya tidaka mendapatkan bonus, sehingga pasti tidak akan menarik bagi atlet," imbuhnya lagi. 

Baca Juga: Akhirnya Pelita Jaya Lepas Legiun Asingnya James L.Dickey III

Sementara itu, Ketua Umum Persatuan Sambo Indonesia (Persambi), Krisna Bayu, menilai PON Bela Diri sebagai langkah maju yang bisa memperkuat peta pembinaan cabor bela diri di Tanah Air.

Menurutnya, turnamen ini mirip Kejurnas tapi dengan skala dan eksposur yang lebih besar.

"Kalau kejurnas itu hanya sekali dua kali, ini bisa jadi platform tahunan atau dua tahunan yang lebih terstruktur. Bisa jadi bagian dari sistem nasional, asal masuk ke dalam perencanaan negara seperti di PAPENAS agar pelaksanaannya bisa kontinu, tidak hilang," ucap Bayu.

Baca Juga: 55 Pemain Lokal Sudah Terpilih, Pelatih Indonesia All Star Masih Tanda Tanya

Ia juga menilai penyelenggaraan terpisah lebih efisien. "Kalau semua ditumpuk di satu PON, biayanya membengkak. Ini lebih hemat, lebih fokus," tambahnya.

Mengingat PON Bela Diri nanti akan jadi perhelatan pertama, dengan mempertandingkan 10 dari 18 cabor bela diri nasional.

Krisna pun berharap pelaksanaannya bisa jadi trial & error, sehingga kedepannya bisa dipatenkan apakah skema ini layak dilanjutkan dan diadopsi secara nasional.

Babak kualifikasi

Sekjen PB Wushu Indonesia, Ngatino mengatakan PON Bela Diri ini bisa juga ke depannya dimanfaatkan sebagai babak kualifikasi, sehingga PON besar itu tidak sebanyak cabornya yang seperti sekarang. 

Baca Juga: Maman Abdurahman Gantung Sepatu, Tutup Perjalanan Karier Sepak Bolanya Selama 24 Tahun

"Jadi ketika PON 4 tahunan, jadi PON Bela Diri ini akan menyeleksi atletnya. Sehingga kuota sudah untuk PON besar sudah ditentukan di PON Bela Diri ini dulu, termasuk nomor pertandingan apa," imbuhnya. 

Bila benar mau dimulai, ia pun menilai sebaiknya KONI Pusat mulai melakukan pembedaan. Namun, secara bobot pertandingan tetap harus sama, sebab nanti ujungnya kan tetap menuju event internasional. 

"Jadi kalau ini sebagai awal terobosan ya bagus, tapi regulasi dibenain lah. Jangan karena sekarang maunya ini, besok ada lagi yang lain," ucap Ngatino. 

"Ini karena belum diatur regulasinya, tahu-tahu ada PON lainnya. Maksudnya tetap kan dulu cabor, nomor pertandingan, di mana venue dan jadwalnya, karena ini menggunakan nama Pekan Olahraga Nasional maka segala sesuatunya harus di atur lebih baik," tukasnya. 

Editor: Gbonk Anaqy Setyawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X