SportlinkNews - Pengurus Besar Ju-jitsu Indonesia (PBJI) memanfaatkan penyelenggaraan PON Bela Diri Kudus 2025 sebagai momentum penting untuk pembinaan dan seleksi atlet nasional.
Ajang ini dianggap sebagai wadah strategis untuk menilai kemampuan, mental, dan kesiapan atlet dari berbagai provinsi sebelum berlaga di tingkat internasional.
Ketua Umum PBJI, Dedy Triharjanto, menegaskan bahwa PON Bela Diri Kudus bukan sekadar kompetisi antar daerah, melainkan juga “laboratorium pembinaan” bagi federasi dalam menjaring talenta potensial.
Baca Juga: Head to Head Napoli vs Inter Milan: Ujian Berat Dua Raksasa Serie A di Stadion Maradona
"Kejuaraan seperti ini sangat penting bagi kami untuk menjaring atlet terbaik melalui sistem data yang akan menentukan wakil Indonesia di ajang internasional," ujar Deddy di Media Center PON Bela Diri Kudus 2025, Sabtu, 25 Oktober 2025.
Deddy menjelaskan bahwa tahun ini PBJI memiliki dua agenda besar di level internasional, yaitu Kejuaraan Asia di Bahrain dan Kejuaraan Dunia di Bangkok pada Desember 2025.
Sebagian besar atlet yang akan diturunkan di ajang tersebut merupakan hasil pemantauan langsung dari gelaran PON Bela Diri Kudus.
Baca Juga: Data dan Fakta Menarik: AC Milan Catat Pertandingan ke-3100 dengan Hasil Imbang Melawan Pisa
"Jadi tahun ini ada dua kesempatan internasional. Dari mana ngambilnya? Ya dari sini (PON Bela Diri)," tegasnya.
Menurut Deddy, antusiasme dan semangat para atlet di Kudus menunjukkan perkembangan positif dari pembinaan ju-jitsu di daerah.
Hingga hari pertama penyelenggaraan, tercatat 19 pengurus provinsi (Pengprov) ikut serta, meski satu di antaranya, Papua, terpaksa mundur karena situasi politik di daerah.
Baca Juga: Ditahan Imbang Pisa 2-2, Pelatih AC Milan Massimiliano Allegri Menyesali Kelakuan Timnya
Selain menjadi ajang kompetisi, PON Bela Diri Kudus juga berperan penting dalam memperkuat soliditas antar-pengurus daerah. Dari total 17 provinsi aktif, terdapat lebih dari 150 pengurus daerah (Pengda) yang ikut berpartisipasi.
Pelaksanaan yang rapi serta atmosfer kompetitif di Djarum Arena, Kudus, dinilai memberi pengalaman berharga bagi para atlet muda untuk menghadapi tekanan pertandingan berskala nasional.
"Melalui turnamen seperti ini, kami berharap bisa membentuk atlet yang tidak hanya kuat secara teknik, tetapi juga matang secara mental. Karena pada akhirnya, mereka lah yang akan membawa nama Indonesia di ajang dunia," tutup Deddy.