Capoeira memiliki gerakan yang anggun, luwes, dan akrobatik sebagai sarana untuk melarikan diri atau menghindar daripada menangkis serangan.
Permainan Capoeira, sebagaimana disebut oleh para praktisinya, tetap dapat mematikan jika terjadi kontak dengan pukulan atau tendangan yang tepat waktu dan tepat sasaran.
Dalam permainan Capoeira, terdiri dari dua lawan yang berhadapan dalam sebuah lingkaran yang cukup besar.
Baca Juga: UFC Raih Gelar Promotor Olahraga Beladiri Termahal Dunia dari Forbes
Para pemain Capoeira (Capoerista) melakukan gaya serangan dan tangkisan pertarungan mengikuti irama ansambel musik. Musik jadi bagian yang tidak terpisahkan dari Capoeira.
Kelompok ini biasanya terdiri dari satu hingga tiga berimbau (alat musik yang dipukul), satu atau dua atabaque (gendang kerucut dengan kepala tunggal dan berdiri).
Ada juga satu pandeiro (rebana), satu agogô (lonceng ganda), dan terkadang juga satu reco-reco (tabung bambu yang dikerok).
Baca Juga: Jalani Debut, Kabaddi Diikuti Tujuh Provinsi di PON XXI Aceh-Sumut 2024
Semua alat musik itu mengiringi lagu-lagu seruan dan respons, yang biasanya dipimpin oleh salah satu pemain berimbau.
Sejak sekitar tahun 1930-an Capoeira mulai berkembang pesat di negara bagian Bahia dan kemudian di Rio de Janeiro.
Banyak klub melatih siswanya dalam melakukan tendangan yang tepat, operan, dan strategi tipu daya.
Baca Juga: Olahraga Voli Lebih dari Sekadar Kompetisi Tapi Juga Jadi Ruang Sosial Penting Bagi Atlet
Pada akhir abad ke-20 Capoeira mulai mendunia, dan pada awal abad ke-21 klub-klub aktif telah ada di banyak kota di seluruh dunia.
Selain itu, seni ini telah banyak diikuti kaum hawa yang sangat terampil. Padahal di awal perkembangannya Capoeira merupakan ranah yang eksklusif bagi pria.