SportlinkNews - Sistem promosi-degradasi baru yang diterapkan PBSI bertujuan untuk percepatan regenerasi pemain.
Dengan kebijakan baru ini, diharapkan dapat meningkatkan daya saing atlet Indonesia guna memastikan Pelatnas hanya diisi oleh pemain yang benar-benar layak.
Hal tersebut diungkapkan Kabid Binpres PP PBSI, Eng Hian pada Sabtu kemarin, 29 Maret 2025 menanggapi penerapan sistem baru ini.
Seperti diketahui hasil rapat evaluasi triwulanan PBSI awal pekan ini memutuskan adanya sistem baru untuk promosi-degradasi di tahun ini.
Baca Juga: Jay Idzes Berambisi Bawa Timnas Indonesia Lolos dan Juara Piala Dunia
Dengan penerapan sistem baru ini, seperti yang dijelaskan sebelumnya, promosi-degradasi tidak lagi menunggu pertengahan tahun atau akhir tahun kompetisi lagi.
Tapi, bisa dilakukan sewaktu-waktu sesuai hasil evaluasi bulanan, alias berjalan dinamis.
Lalu, apa indikator yang dilihat atau dihitung oleh PBSI dari seorang atlet itu bisa dianggap memenuhi progres performa? Eng Hian menjelaskan ada beberapa hal yang jadi patokan.
"Setiap atlet akan dipantau performanya melalui pencapaian prestasi di turnamen BWF dan multievent, progress kemajuan dari segi teknik, fisik dan juga data-data pendukung. Hal ini yang akan menjadi bahan pertimbangan tim pelatih untuk mengambil keputusan," kata Eng Hian.
Baca Juga: Arsenal Gelar Buka Puasa Bersama Para Fans dan Keluarga Besar The Gunner
Namun, bagaimana untuk pemain yang sedang dalam tahap pemulihan, apakah akan dikembalikan ke klub?
Atau bagaimana dengan pemain yang sering mencapai final dan semifinal tetapi tidak pernah juara, apakah itu bisa dianggap gagal?
Kemudian, bagaimana menentukan keberhasilan atlet di satu dua turnamen bila mana mendapatkan undian yang berat?
Menanggapi hal tersebut, PBSI mengatakan jika semua hal menjadi bahan pertimbangan.
Baca Juga: Arsenal Tunjuk Andrea Berta sebagai Direktur Olahraga The Gunners yang Baru
PBSI berharap penerapan sistem yang lebih ketat ini dalam mempercepat regenerasi pemain sesuai dengan target mereka dalam tiga tahun ke depan.
Memberikan kesempatan bagi atlet muda berbakat untuk tampil di turnamen internasional.
"Saya berharap kebijakan ini dapat meningkatkan daya saing atlet Indonesia di kancah internasional serta memastikan pelatnas diisi oleh pemain yang benar-benar layak," ungkap Eng Hian.
Artikel Terkait
PBSI Minta Pemain Fokus di Swiss Open 2025 Usai Kegagalan di All England
PBSI Tarik Apriyani/Fadia dari Swiss Open 2025, Evaluasi Performa Jadi Alasan
Anthony Ginting Absen Panjang, PBSI Ungkap Detail Cedera Bahu yang Dialaminya
PBSI Evaluasi Atlet Pelatnas: Performa Belum Maksimal, Sistem Promosi-Degradasi Diperketat
Skuat Indonesia di Piala Sudirman 2025 Diumumkan 2 April, PBSI Pertimbangkan Pemain Non-Pelatnas