SportlinkNews - Kabar miring datang dari pelatnas panjat tebing. Ada tuduhan pelecehan seksual dan kekerasan fisik yang dilakukan Pelatih Kepala Tim Nasional Panjat Tebing.
Pada korban telah melaporkan dugaan pelecehan seksual dan kekerasan fisik tersebut.
Sementara proses penyidikan yang dilakukan oleh tim pencari fakta (TPF) masih berlangsung, sang pelatih tertuduh pun untuk sementara di nonaktifkan demi menjaga perlindungan atlet dan memastikan investigasi berjalan objektif.
Baca Juga: Manajemen Persis Solo Kasih Ultimatum kepada Milomir Seslija
Sekretaris Umum PP FPTI, Wahyu Pristiawan Buntoro, menyebut penonaktifan dilakukan melalui surat keputusan .
"TPF setelah menyelesaikan tugasnya akan memberikan rekomendasi kepada federasi terkait langkah yang akan diambil selanjutnya," ujarnya dikutip dari Antara, Selasa, 24 Februari 2026.
TPF dibentuk atas arahan Ketua Umum PP FPTI, Yenny Wahid, menyusul pengaduan delapan atlet pada 28 Januari 2026. Laporan tersebut berisi dugaan tindakan tidak pantas yang disebut terjadi di lingkungan pemusatan latihan nasional (pelatnas).
Baca Juga: Warisan #21 Abadi, Putri Sean Taylor Dapat KD 18 Spesial dari Nike
FPTI menegaskan komitmennya terhadap prinsip zero tolerance untuk segala bentuk kekerasan, terutama yang menyangkut perempuan dan anak.
Karena itu, penanganan kasus dilakukan secara hati-hati dan mengedepankan asas perlindungan korban.
Tak hanya melakukan investigasi internal, TPF juga berkoordinasi dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak guna memastikan pendekatan yang tepat.
Baca Juga: Jadwal Pertandingan Super League Pekan ke-23, Persija Jalani Laga Tandang ke Ternate
Soal kemungkinan proses hukum, federasi belum memberikan pernyataan lebih lanjut karena mempertimbangkan sensitivitas kasus.
Secara administratif, masa tugas pelatih tersebut memang akan berakhir pada 28 Februari 2026 dan namanya tidak lagi masuk dalam struktur terbaru tim pelatih.
Namun federasi menegaskan, penonaktifan ini murni respons atas laporan yang diterima, bukan karena faktor pergantian periode.
Baca Juga: Fiorentina Lolos dari Zona Degradasi Setelah Mengalahkan Pisa di Pekan ke-26 Serie A
Di sisi lain, pelatih yang bersangkutan membantah seluruh tuduhan. Ia menyatakan tidak pernah melakukan pelecehan seksual maupun kekerasan fisik terhadap atlet.
Menurutnya, gaya kepelatihan yang keras dan disiplin telah diterapkan sejak 2012 sebagai bagian dari pembentukan mental juara. Ia mengakui dikenal tegas, namun menilai hal itu semata demi meningkatkan daya saing atlet di level internasional.
Terkait dugaan pelecehan, ia mengaku pernah memeluk atau mencium kening atlet putri dalam situasi tertentu ketika atlet mengalami tekanan mental.
Baca Juga: Insiden di Laga Arsenal vs Tottenham Hotspur Bikin Mikel Arteta Jengkel
Namun ia menegaskan tindakan tersebut dimaksudkan sebagai bentuk dukungan moral, bukan tindakan asusila.
Ia juga menyebut belum pernah dimintai klarifikasi sebelum surat penonaktifan diterbitkan. Meski demikian, ia menyatakan menerima keputusan federasi dan menyerahkan proses sepenuhnya kepada mekanisme yang berjalan.
Artikel Terkait
Rindam Jaya dan FPTI Gelar Sport Climbing Open Championship 2024 di GBK
FPTI Gelar Seleksi Nasional Pelatnas Utama Panjat Tebing 2025