SportlinkNews - Usai berjaya di nomor speed dengan raihan dua emas dan satu perak, Indonesia kini membidik tambahan medali dari disiplin lead putra pada IFSC World Climbing Series Chamonix 2026.
Asa itu dijaga Putra Tri Ramadani setelah memastikan lolos ke babak final.
Pemanjat yang akrab disapa Srondeng itu memastikan tempat di delapan besar setelah menuntaskan semifinal di posisi keenam dengan torehan 37+.
Baca Juga: Lando Norris Lakukan Debut Publik McLaren MCL-HY di Goodwood Festival of Speed
Hasil tersebut cukup untuk membawanya bersaing memperebutkan podium pada final yang digelar Senin, 13 Juli 2026.
Penampilan Srondeng di dinding semifinal menjadi salah satu yang paling menarik. Atlet Indonesia itu tampil tenang saat menghadapi rangkaian crimp yang dikenal sangat menguras kekuatan jari.
Ia mampu menjaga ritme hingga mencapai hold bernilai 37+, sebelum akhirnya kehilangan pegangan dan terjatuh.
Baca Juga: Amerika Serikat dan Portugal Tersingkir, Harga Tiket Piala Dunia 2026 Anjlok
Catatan tersebut bahkan sempat menempatkan Srondeng di posisi teratas klasemen sementara. Tambahan nilai "plus" pada hold terakhir membuatnya melewati skor Luka Potocar yang sebelumnya memimpin dengan nilai 37.
Namun, posisi itu akhirnya bergeser setelah beberapa pemanjat unggulan tampil pada giliran berikutnya.
Semifinal akhirnya dipimpin Potocar dari Slovenia dengan nilai 38+, diikuti Sam Avezou (Prancis) yang mengoleksi 38.
Baca Juga: Marc Marquez Tampil Dominan di GP Jerman, Buntuti Jorge Martin dan Ai Ogura di Klasemen Pembalap
Alberto Gines Lopez (Spanyol), Satone Yoshida (Jepang), Dohyun Lee (Korea Selatan), dan Srondeng sama-sama membukukan 37+, tetapi dipisahkan oleh perhitungan waktu serta urutan pencapaian.
Dua tiket final lainnya menjadi milik Sorato Anraku (Jepang) dengan 36+ dan Zento Murashita (Jepang) dengan 35+.
Lolos ke final semakin mempertegas konsistensi Srondeng sepanjang musim 2026.
Baca Juga: Rudi Garcia Paksa Thibaut Courtois Digantikan Senne Lammens
Sebelumnya, ia mencatat sejarah sebagai pemanjat Indonesia pertama yang merebut medali emas disiplin lead pada World Climbing Series saat menjadi juara di Praha.
Setelah itu, ia kembali tampil kompetitif dengan finis di posisi keempat pada seri Innsbruck.
Di Chamonix, perjalanan Srondeng juga menunjukkan peningkatan. Ia hanya lolos ke semifinal dari posisi ke-12 babak kualifikasi dengan nilai 13,32, namun mampu meningkatkan performa secara signifikan ketika memasuki fase gugur.
Baca Juga: DFB dan Jurgen Klopp Capai Kesepakatan Awal Latih Jerman
Sayangnya, langkah Srondeng tidak diikuti rekan-rekannya.
Raviandi Ramadhan harus mengakhiri perjuangan di babak kualifikasi setelah menempati peringkat ke-33, sementara Tsany Alma Ariella juga gagal menembus semifinal lead putri usai finis di posisi ke-49.
Artikel Terkait
Indonesia Tutup Musim IFSC World Cup 2025 dengan Prestasi Dunia, Katibin Nomor Satu dan Desak Tiga Besar
Indonesia Bidik Podium di IFSC World Climbing 2026 Series Wujiang
IFSC World Climbing Series 2026: Desak Made Jadi Penyumbang Medali Indonesia di Wujiang
Bidik Tren Positif, Indonesia Turunkan 10 Atlet di IFSC World Cup Chamonix
Indonesia Borong Dua Emas di Chamonix, Desak dan Veddriq Kembali Berjaya di Speed Individu