SportlinkNews - Menjelang keberangkatan kontingen Merah Putih ke SEA Games 2025 Thailand, sejumlah cabang olahraga unggulan mulai menegaskan peta kekuatan dan target medali masing-masing.
Pemerintah telah menetapkan sasaran minimal 82 medali emas, namun beberapa cabor prioritas memilih pendekatan realistis dengan fokus pada regenerasi dan efektifitas strategi ketimbang sekadar mengejar angka besar.
PBSI menjadi salah satu federasi yang mengambil langkah berani dengan memangkas target medali emas menjadi hanya dua keping.
Baca Juga: Kaleb Remot Istirahat Panjang, Dewa United Atur Ulang Strateginya Jelang IBL 2026
Angka itu jauh di bawah capaian Indonesia di SEA Games 2023 Kamboja, ketika skuat pelatnas menyapu lima emas dan keluar sebagai juara umum.
Ketua Tim Percepatan Prestasi PBSI, Greysia Polii, menyebut kebijakan regenerasi sebagai alasan utama pemangkasan target.
SEA Games kerap dijadikan ruang belajar bagi pemain pelapis, namun evaluasi terbaru membuka peluang masuknya beberapa pemain senior demi memperbesar kans emas.
Baca Juga: Proyeksi Juara BRI Super League: Borneo FC 80 Persen, Persib 15 Persen, Persija Belum Masuk Kalkulasi
"Tim analisis melihat ada momentum untuk menambah pemain berpengalaman agar peluang emas tetap terjaga tanpa mengganggu proses regenerasi," kata Greysia.
Berbeda dengan bulu tangkis, panjat tebing tetap mematok ambisi tinggi. PB FPTI menargetkan minimal tiga emas namun tetap dengan kekuatan muda.
Mereka percaya diri bahwa pemanjat muda juga bisa memberikan kejutan. Regenerasi menjadi fokus utama, namun sektor unggulan seperti speed putra-putri dan lead putri tetap diyakini mampu menjaga dominasi Indonesia di Asia Tenggara.
Baca Juga: Marciano Norman Minta Skateboard Terus Dikembangkan Demi Meraih Prestasi Olimpiade
Akuatik yang memiliki banyak nomor pertandingan juga hanya mentargetkan tiga emas, capaian yang sama seperti di Kamboja 2023. Tampil dengan kekuatan kombinasi perenang muda dan senior.
Atlet-atlet pengalaman seperti Siman Sudartawa, Felix Viktor Ibele, dan Masniari Wolf kembali jadi tumpuan. Namun, mereka akan dibantu oleh skuat muda juga disebut berpotensi menghadirkan kejutan di beberapa nomor.
"Kami punya kombinasi ideal antara atlet senior dan rising stars yang sudah menunjukkan grafik performa positif," ujar Ketua Harian PB Akuatik, Harlin E. Rahardjo.
Baca Juga: Juventus Bidik Kemenangan Pertama di Liga Champions dengan Taruhan Rp 503 Miliar
Optimisme besar datang dari cabang angkat besi. CdM Indonesia, Bayu Priawan Djokosoetono, menyebut cabor ini berpotensi menyumbang 7–8 emas, lebih tinggi dari torehan lima emas di edisi sebelumnya.
Sebanyak 12 lifter masuk dalam skuat final, termasuk nama-nama elite seperti Rahmat Erwin Abdullah, Rizki Juniansyah, Luluk Diana Tri Wijayana, dan Natasya Beteyob yang tampil menjanjikan di kelas 58 kg putri.
"Melihat tren performa para lifter di berbagai kejuaraan, target 7–8 emas sangat realistis. Angkat besi adalah kekuatan utama kita," kata Bayu.
Baca Juga: Nova Arianto Resmi Tangani Timnas U-20 Indonesia, Erick Thohir: Pelatih Terbaik yang Kita Miliki
Dengan sejumlah cabor unggulan melakukan penyesuaian target dan strategi, harapan medali juga diarahkan ke cabang bela diri yang selama ini konsisten menyumbang podium.
Kombinasi kekuatan tradisional dan regenerasi atlet muda menjadi kunci agar Indonesia tetap kompetitif dalam persaingan medali.
SEA Games 2025 dipastikan menjadi panggung adu kekuatan baru.
Baca Juga: Kemenangan Milan atas Inter Picu Perdebatan, Massimiliano Allegri Dipuji dan Dikritik
Target besar, komposisi segar, dan strategi adaptif menjadi fondasi Indonesia dalam upaya mempertahankan posisi tiga besar sekaligus menegaskan statusnya sebagai salah satu kekuatan utama olahraga di Asia Tenggara.