lain-lain-olimpik

Indonesia Borong 16 Medali di Meksiko, Kadek Dwi Pecahkan Rekor Dunia

Senin, 27 Juli 2026 | 22:14 WIB
Aksi sprinter Indonesia Nanda Mei Sholihah dalam nomor 100m T47 putri kejuaraan World Para Athletics Grand Prix 2026 di Tlaxcala, Meksiko.Tim para atletik Indonesia sukses memborong 15 medali emas dan satu perak.

SportlinkNews - Kontingen para atletik Indonesia menorehkan hasil impresif pada World Para Athletics Grand Prix 2026 di Tlaxcala, Meksiko.

Tampil pada kejuaraan yang berlangsung 21-24 Juli lalu, Merah Putih mengakhiri kompetisi dengan koleksi 15 medali emas dan satu medali perak, sekaligus menempati posisi kedua klasemen akhir medali.

Indonesia hanya berada di belakang tuan rumah Meksiko yang menurunkan ratusan atlet dan mengumpulkan 99 emas, 101 perak, serta 81 perunggu.

Baca Juga: Indonesia Open Jadi Ujian Tiga Taekwondoin Menuju Asian Games 2026

Capaian tersebut menjadi sinyal positif bagi tim nasional yang tengah mempersiapkan diri menghadapi Asian Para Games 2026 sekaligus mengumpulkan poin menuju Paralimpiade Los Angeles 2028.

Selain banjir medali, penampilan Indonesia juga diwarnai lahirnya dua catatan prestisius.

I Kadek Dwi Purwana Yasa memecahkan rekor dunia nomor lempar cakram klasifikasi F57, sedangkan Nanda Mei Sholihah mencatatkan rekor Asia pada nomor lari 100 meter klasifikasi T47.

Baca Juga: Kalahkan PSG, Real Madrid Segera Rampungkan Transfer Yan Diomande

Kadek mencatat lemparan sejauh 48,68 meter, melewati rekor dunia sebelumnya milik atlet Brasil, Thiago Paulino dos Santos, yang bertahan dengan jarak 48,55 meter.

"Sebenarnya tidak menyangka bisa pecah rekor. Saya hanya berusaha melempar sebisanya, tetapi ternyata dari lemparan itu malah pecah rekor. Tentunya saya senang dan masih tidak menyangka," ujar Kadek.

Meski demikian, atlet asal Bali tersebut mengaku harus beradaptasi dengan perjalanan panjang menuju Meksiko serta perbedaan makanan.

Baca Juga: Gelandang Arsenal Demiane Agustien Masuk Radar Naturalisasi Timnas Indonesia

Menurutnya, kedua kendala itu dapat diatasi dengan waktu istirahat yang cukup dan membawa bekal makanan dari Indonesia.

"Kendala pertama kami atasi dengan banyak istirahat. Untuk makanan, kami membawa bekal dari Indonesia, jadi semuanya bisa diatasi," katanya.

Kontribusi medali Indonesia tidak hanya datang dari Kadek. Nanda Mei Sholihah menjadi salah satu penyumbang terbanyak dengan tiga medali emas, masing-masing dari dua nomor individu dan satu nomor estafet.

Baca Juga: Morgan Rogers Datang, Xabi Alonso Ungkap Rencana Taktis Lini Serang Chelsea

Karisma Evi Tiarani dan Taufik Abdul Karim juga tampil konsisten dengan masing-masing menyabet dua medali emas dari nomor individu.

Deretan emas lainnya dipersembahkan Ni Made Arianti Putri, Saptoyogo Purnomo, Jaenal Aripin, Alfin Nomleni, Partin, Fauzi Purwolaksono, I Kadek Dwi Purwana Yasa, dan Suparni Yati. Sementara satu-satunya medali perak Indonesia diraih Jaenal Aripin.

Pelatih para atletik Indonesia, Setyo Budi Hartanto, menilai hasil di Meksiko menjadi bukti bahwa program pemusatan latihan nasional jangka panjang mulai membuahkan hasil.

Baca Juga: Bintang Termahal Timnas Indonesia Terkunci Aturan FIFA, PSSI Tidak Berdaya

"Hasilnya sangat memuaskan. Ada yang memecahkan rekor dunia atas nama Kadek Dwi di nomor lempar cakram F57 dan memecahkan rekor Asia atas nama Nanda Sholihah di nomor 100 meter T47," tambahnya.

Menurut Setyo Budi Hartanto, Grand Prix Meksiko menjadi ajang penting untuk mengumpulkan poin kualifikasi menuju Paralimpiade Los Angeles 2028.

Kejuaraan tersebut juga dimanfaatkan sebagai simulasi terakhir sebelum tim Indonesia bertolak ke Jepang untuk tampil pada Asian Para Games 2026.

Baca Juga: Al Nassr Dilanda Krisis, Masa Depan Ronaldo Dipertanyakan

"Timing-nya tepat sekali. Kita masih memiliki waktu tiga bulan menuju Asian Para Games. Kita akan kembangkan lagi agar performa para atlet mencapai puncaknya di Nagoya nanti," imbuh kembali.

Nanda pun mengaku keberhasilannya memecahkan rekor Asia menjadi tambahan motivasi untuk menghadapi Asian Para Games. Baginya, tantangan terbesar bukan berasal dari lawan di lintasan, melainkan mengalahkan rasa takut dalam diri sendiri.

"Sebenarnya yang menjadi lawan terberat justru diri sendiri karena melawan rasa takut. Tetapi dengan persiapan yang cukup matang, alhamdulillah semuanya berjalan sesuai harapan," ungkapnya.

Tags

Terkini