SportlinkNews - Sanksi berat resmi dijatuhkan kepada pemain muda Bhayangkara FC U-20, Fadly Alberto Hengga, akibat tindakan indisipliner fatal di lapangan. Komite Disiplin (Komdis) PSSI memutuskan untuk melarang sang pemain beraktivitas di dunia sepak bola selama tiga tahun penuh.
Hukuman ini merupakan buntut dari insiden tendangan kungfu yang dilakukan Alberto terhadap penggawa Dewa United Banten FC U-20, Rakha Nurkholis. Aksi kekerasan tersebut dinilai telah mencederai nilai-nilai sportivitas serta membahayakan keselamatan fisik sesama pemain dalam pertandingan.
Pihak manajemen Bhayangkara FC U-20 mengonfirmasi kabar buruk ini melalui rilis resmi yang dikeluarkan pada Jumat, 1 Mei 2026. Ternyata bukan hanya Alberto yang menjadi sasaran ketegasan Komdis PSSI dalam upaya penegakan disiplin kompetisi kelompok umur.
Baca Juga: Persita Curi Poin di Bantul, Carlos Pena Puji Kedisiplinan Pendekar Cisadane
Terdapat empat pemain lainnya beserta seorang ofisial tim yang turut terseret dalam badai sanksi akibat kericuhan massal tersebut. Ketegasan federasi ini diharapkan mampu memberikan efek jera agar kejadian serupa tidak terulang kembali di masa depan.
Nama-nama seperti Aqilah Lissunnah Aljundi, Afrizal Riqh, dan Ahmad Catur menjadi pemain yang terdampak dengan sanksi larangan bermain selama dua tahun. Sementara itu, M. Mufdi Iskandar mendapatkan hukuman yang relatif lebih ringan yakni larangan bertanding selama satu tahun.
Sektor kepelatihan juga tidak luput dari pantauan Komdis PSSI yang menyasar ofisial tim bernama Muklis Hadi Ning. Sosok tersebut dilarang mendampingi tim dalam empat pertandingan ke depan akibat perannya dalam insiden di pinggir lapangan.
Baca Juga: Meski Menang atas Bhayangkara FC, Bojan Hodak Kritik Performa Persib di Awal Laga
Manajemen Bhayangkara FC U-20 menyatakan komitmennya untuk tetap menghargai otoritas Komdis PSSI sebagai lembaga yang berwenang. Namun, durasi hukuman yang sangat panjang bagi para pemain muda ini memicu keberatan dari pihak klub.
Manajer Bhayangkara FC U-20, Yongky Pamungkas, menegaskan bahwa klub akan mengambil langkah hukum sesuai regulasi yang berlaku. “Kami menghormati keputusan Komite Disiplin PSSI. Namun, kami menilai ada beberapa hal yang masih perlu dikaji ulang secara lebih komprehensif dan proporsional, terutama terkait durasi sanksi yang dijatuhkan kepada pemain,” ujar Yongky.
Yongky mengindikasikan adanya ketidaksesuaian antara beratnya hukuman dengan fakta-fakta yang sebenarnya terjadi di atas lapangan. Pihak klub berargumen bahwa kronologi kejadian tidak hanya melibatkan aksi serangan dari pihak pemain mereka semata.
Baca Juga: Debutan GT World Challenge Asia, Sean Gelael Asah Performa Lewat Simulasi dan Pit Stop
Menurut Yongky, terdapat kondisi krusial di mana para pemain asuhannya justru menjadi korban dalam situasi yang memanas tersebut. "Kami melihat ada fakta-fakta di lapangan yang perlu menjadi pertimbangan lebih dalam, termasuk kondisi di mana beberapa pemain kami juga berada dalam posisi sebagai pihak yang terdampak,” lanjutnya.
Klub berjuluk The Guardian muda ini khawatir bahwa hukuman bertahun-tahun akan mematikan karier dan masa depan para pemain mereka. Oleh karena itu, jalur banding dianggap sebagai satu-satunya jalan untuk mendapatkan keringanan sanksi bagi Alberto dan kawan-kawan.