Sport Tourism Melejit Global, Menpora: Indonesia Harus Berani Bersaing

Gbonk Anaqy Setyawan, Sportlink News
- Sabtu, 6 Desember 2025 | 22:09 WIB
Menpora Erick Thohir berserta jajarannya melihat booth Byon salah satu penyelenggaran pertandingan combat profesional, di Indonesia Sports Summit (ISS) 2025 di Indonesia Arena, Jakarta, 6 Desember. (KEMENPORA)
Menpora Erick Thohir berserta jajarannya melihat booth Byon salah satu penyelenggaran pertandingan combat profesional, di Indonesia Sports Summit (ISS) 2025 di Indonesia Arena, Jakarta, 6 Desember. (KEMENPORA)

SportlinkNews - Belanja pemerintah hanya berkontribusi 7–10 persen terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Karena itu, dunia olahraga harus bergerak ke arah baru, menjadikan olahraga sebagai industri yang hidup dan menarik investasi.

Hal itu diungkapkan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir dalam pemaparannya tentang peta industri olahraga Indonesia di even utama Indonesia Sports Summit (ISS) di Indonesia Arena, Senayan, Jakarta, Sabtu, 6 Desember 2025. 

"Kita harus berkolaborasi dengan semua stakeholder untuk menjadikan olahraga sebagai kegiatan ekonomi baru. Baik sport industry maupun sport tourism," ujarnya.

Baca Juga: Hasil Super League: Gagal Mempertahankan Keunggulan PSM Makassar Harus Berbagi Poin dengan Persebaya

Ia menyebut Amerika Serikat sebagai contoh negara yang mampu memanfaatkan olahraga sebagai mesin ekonomi. Saat ini, 40 persen pangsa pasar industri olahraga dunia berada di AS. 

Olahraga seperti American Football, NBA, hingga MLB menghasilkan pendapatan ratusan triliun rupiah.

Secara global, industri olahraga bernilai 521 miliar dolar AS dan tumbuh sekitar 8 persen per tahun, bahkan sektor digitalnya melesat hingga 25 persen. 

Sementara itu, sport tourismnya telah mencapai nilai 625 miliar dolar AS dan diprediksi akan melompat lebih tinggi. 

Baca Juga: Program Kejutan Natal Oxford United, Ole Romeny Muncul di Episode Perdana

Hal itu yang kemudian, menurut Erick belum tergarap di Indonesia.

Sport tourism itu, katanya, memang hanya 10 persen dari industri wisata, tapi yang menarik pada tahun 2030, justru akan 44 kali lipat meningkat, bisa mecapai 2,8 triliun.

"Itulah kenapa Qatar agresif melakukan bidding berbagai multievent karena mereka tahu korelasinya, ketika industrinya hidup, kompetisi akan makin banyak, kualitas atlet meningkat, prestasi mengikuti. Itu mirroring antara industri yang tumbuh dan prestasi olahraga," tutur Erick.

Baca Juga: Statistik Pertahanan Gladbach Lebih Hebat dari Bayern Muenchen, Kevin Diks Bersinar

Dalam kesempatan terpisah Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung mengatakan bahwa Jakarta kini sudah mulai menggerakan sport tourism, seriring dengan pertumbuhan event olahraga di Jakarta yang kini mulai membooming.

Hal itu, dinilainya mulai menjadi daya tarik wisata. 

Jakarta International Marathon dan Jakarta Running Festival disebut sebagai dua contoh event yang tengah berkembang pesat. Antusiasme peserta meningkat signifikan setiap tahun. 

Baca Juga: Pengundian Piala Dunia 2026: Enam Tim yang Belum Ditentukan akan Diumumkan Maret 2026

Karena itu, Pramono menargetkan kedua event tersebut bisa menarik hingga 40 ribu peserta pada tahun depan, dengan syarat hadiah ditingkatkan untuk menarik perhatian internasional.

"Kalau hadiahnya dinaikkan, dunia akan melihat kita," tegasnya.

Upaya ini, menurut Pramono, bukan hanya mengembangkan sport tourism, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi pelaku industri kreatif, UMKM, serta sektor jasa di ibu kota.

Editor: Gbonk Anaqy Setyawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Pacar Haaland Kejutkan Penggemar

Minggu, 12 Juli 2026 | 08:43 WIB

Penampakan Pembawa Keberuntungan Timnas Inggris

Minggu, 12 Juli 2026 | 07:17 WIB

Prancis yang Menang, London Bergejolak

Jumat, 10 Juli 2026 | 08:19 WIB
X