SportlinkNews - Kabar duka datang dari dunia sepak bola nasional. Legenda Persebaya Surabaya, Bejo Sugiantoro meninggal dunia saat sedang bermain sepak bola bersama rekan-rekannya di Lapangan Sepak Bola SIER Surabaya, Selasa sore, 25 Februari 2025.
Ketika saat bermain sepak bola, Bejo langsung tak sadarkan diri. Pertolongan pertama diberikan dan dia segera dilarikan ke RS Royal Surabaya
Namun, nyawanya tak bisa tertolong setelah penanganan. Bejo pun dinyatakan meninggal pada pukul 17.20 WIB oleh dokter rumah sakit.
Baca Juga: Donald Trump Turun Tangan, Upaya Rekonsiliasi PGA Tour dan LIV Golf Kembali Dibahas
Berdasarkan informasi, ayah dari pemain Persib Rahmat Irianto ini mengalami serangan jantung.
Kejadian atlet meninggal terkena serangan jantung saat bermain atau bertanding tidak sekali ini saja. Ada banyak kasus yang terkait serangan jantung saat berolahraga dan bukan hanya di sepak bola saja.
Lalu, serangan jantung pun tidak mengenal usia. Tidak seperti Bejo yang sudah berusia 47 tahun, rata-rata atlet yang mengalami serangan jantung saat olahraga/bertanding justru berusia muda.
Baca Juga: Manchester City Gandeng Publicis Sapient untuk Transformasi Digital
Sebelum Bejo, ada pemain muda bulutangkis asal Cina, Zhang Zhi Jie (17) yang juga meninggal karena serangan jantung saat Kejuaraan Asia Junior di Yogyakarta, Indonesia pada 2023.
Kemudian, Jose Puerta (2) pesepakbola asal Spanyol yang meninggal dunia karena hal yang sama pada laga La Liga 2007.
Ada pula pebalap sepeda asal Belgia, Michael Goolaerts (23) yang mengalami serangan jantung saat mengikuti lomba Paris-Roubaix pada tahun 2018.
Dikutip dari laman Indonesia Heart Association, meninggal mendadak saat berolahraga, terutama pada aktivitas intensitas tinggi merupakan kejadian yang jarang terjadi.
Baca Juga: Asisten Pelatih Timnas Indonesia Pantau Pemain di Belanda, Fokus Jelang Duel Kontra Australia
Karena kondisi itu seringkali melibatkan orang yang tampak segar dan bugar. Sehingga banyak yang bertanya-tanya kenapa hal itu bisa terjadi.
Penyebab utama kematian mendadak saat berolahraga biasanya berkaitan dengan kondisi jantung yang tidak terdiagnosis, seperti kardiomiopati hipertrofik, aritmia jantung, dan penyakit jantung koroner.
Selain itu faktor-faktor eksternal seperti dehidrasi, kelelahan ekstrem, dan penggunaan suplemen atau doping juga dapat berkontribusi terhadap risiko ini.
Baca Juga: Claudio Ranieri Waspadai Como, Sebut Cesc Fabregas sebagai Pelatih Masa Depan
Setidaknya ada beberapa tanda-tanda umum masalah jantung saat berolahraga, sehingga saat mengalaminya tidak boleh diabaikan.
Tanda-tanda indikator kemungkinan serangan jantung yakni, seseorang merasa lelah yang terlalu, letih, tidak nyaman di dada, berat, atau berkeringat banyak selama atau setelah berolahraga.
Apalagi bila sudah ada rasa nyeri di dada atau rasa tidak nyaman hingga menyebar ke lengan kiri dan berkeringat, sesak napas, merasa pusing.
Kemudian, irama jantung tidak normal seperti berdebar-debar kencang, dan timbul sensasi tidak nyaman di bagian tubuh yang lain.
Baca Juga: Erick Thohir : Indra Sjafri Tidak Akan Menjadi Pelatih Timnas Indonesia di SEA Games 2025
Misalnya, seperti ada tekanan pada lehar, rahang, punggung, hingga perut, maka harus segera ditangani serius dan dibawa ke rumah sakit.
Lalu apakah serangan jantung saat berolahraga bisa dicegah? Jawabannya bisa.
Pertama adalah menyesuaikan intensitas olahraga dengan kemampuan tubuh agar tidak terlalu berat.
Kuncinya adalah berolahraga secara rutin, tapi bukan berolahraga dalam durasi yang lama. Cukup olahraga ringan setidaknya 30 menit setiap hari.
Baca Juga: Jordi Cruyff Bantu PSSI Cari Direktur Teknik, Erick Thohir: Kami Harus Hati-hati
Bagi seseorang yang punya riwayat jantung, minum obat jantung sebelum berolahraga sesuai anjuran dokter.
Jangan terlalu memforsir tubuh, beri jeda waktu beristirahat sebelum memulai olahraga kembali.
Upaya pencegahan serangan jantung lainnya, seperti menerapkan pola makan sehat, mengendalikan stres, sering memantau tekanan darah, berhenti merokok dan tidak minum alkohol.