SportlinkNews - Berolahraga di pegunungan, terutama pada musim dingin/hujan, menawarkan tantangan tersendiri.
Namun, banyak orang yang kurang menyadari bahaya hipotermia yang mengintai.
Hipotermia dapat terjadi ketika suhu tubuh turun di bawah 35°C akibat kehilangan panas yang berlebihan tanpa penggantian yang cukup.
Baca Juga: Adidas Baru Saja Membocorkan AE2 Milik Anthony Edwards
Mengapa Hipotermia Berbahaya?
Hipotermia sering kali berkembang secara bertahap dan tidak disadari oleh korbannya. Saat suhu tubuh mulai turun, tubuh akan menggigil sebagai respons alami untuk menghasilkan panas.
Namun, ketika hipotermia semakin parah, tubuh akan kehilangan kemampuannya untuk menggigil dan menjadi semakin lemah.
Jika dibiarkan, kondisi ini bisa menyebabkan kehilangan kesadaran hingga henti jantung.
Baca Juga: 10 Stadion Paling Angker dalam Sejarah Sepak Bola, Termasuk Gelora Bung Karno
Dalam dunia olahraga pegunungan, kondisi ini sangat berisiko bagi pendaki, pelari gunung, dan petualang yang terlalu fokus pada performa fisik tanpa memperhatikan perlindungan terhadap suhu dingin.
Kesalahan seperti membawa perlengkapan yang tidak memadai atau tidak mengenakan pakaian yang cukup sering kali menjadi penyebab utama hipotermia.
Tanda dan Gejala Hipotermia
Baca Juga: Bruno Fernandes Bersinar, Manchester United Butuh Lebih Banyak Pemain Sepertinya
Gejala awal hipotermia sering kali diabaikan karena dianggap sebagai kelelahan biasa. Beberapa tanda awal yang perlu diwaspadai meliputi:
- Menggigil berlebihan
- Kesulitan berkonsentrasi atau membuat keputusan
- Perubahan suasana hati, mudah marah atau apatis
- Koordinasi tubuh yang buruk (tersandung, meraba-raba)
Baca Juga: Lima Bra Olahraga Berdampak Tinggi Terbaik untuk Atlet
Saat hipotermia semakin parah, gejala berikut bisa muncul:
* Tidak berhenti menggigil (pertanda kondisi serius)
* Kulit pucat dan dingin
* Bibir serta jari-jari membiru
* Denyut jantung dan pernapasan melambat
* Kehilangan kesadaran
Baca Juga: Ole Romeny Antusias Jalani Debut di Timnas Indonesia, Siap Hadapi Australia dan Bahrain
Dalam kondisi ekstrem, korban hipotermia mungkin akan mengalami fenomena "paradoxical undressing," yaitu melepas pakaian mereka karena merasa kepanasan meskipun suhu tubuh mereka sangat rendah.
Cara Mencegah Hipotermia Saat Beraktivitas di Pegunungan
1. Gunakan Pakaian yang Tepat
Kenakan pakaian berlapis, termasuk lapisan dasar yang menyerap kelembapan, lapisan isolasi seperti fleece atau wol, dan lapisan luar tahan angin serta air.
Jangan lupa mengenakan sarung tangan, kaus kaki tebal, serta penutup kepala untuk mengurangi kehilangan panas.
Baca Juga: Mikel Arteta – 200 Pertandingan Liga Primer, 118 Kemenangan: Di Mana Posisinya di Antara Para Manajer Hebat?
2. Bawa Perlengkapan Darurat
Selalu bawa jas hujan, ponco, atau selimut darurat berbahan foil. Gunakan tas survival yang lebih baik dalam mempertahankan panas tubuh dibandingkan selimut biasa.
3. Konsumsi Makanan dan Minuman yang Cukup
Makanan tinggi energi dan minuman hangat dapat membantu tubuh mempertahankan suhu inti. Hindari alkohol dan kafein, karena dapat mempercepat kehilangan panas tubuh.
4. Jangan Berolahraga Sendiri
Berlatih di pegunungan dalam kelompok lebih aman. Jika salah satu anggota mengalami hipotermia, yang lain bisa segera memberikan pertolongan.
5. Kenali Batasan Tubuh dan Jangan Memaksakan Diri
Jika merasa lelah dan mulai mengalami gejala awal hipotermia, segera cari tempat berteduh, ganti pakaian basah, dan konsumsi makanan serta minuman hangat.
Baca Juga: Tim Bulutangkis Indonesia Tiba di Birmingham, Langsung Geber Latihan untuk All England 2025
Apa yang Harus Dilakukan Jika Mengalami Hipotermia?
Jika seseorang mengalami hipotermia, langkah-langkah berikut dapat membantu mencegah kondisi semakin memburuk:
Pindahkan korban ke tempat yang lebih hangat dan jauhkan dari angin serta tanah dingin. Ganti pakaian basah dengan yang kering. Kelembaban mempercepat penurunan suhu tubuh.
Gunakan teknik pemanasan bertahap. Hindari pemanasan langsung dengan api atau bantalan panas, karena dapat menyebabkan gangguan sirkulasi yang berbahaya.
Baca Juga: Atlet Paling Bergaya dalam Olahraga Profesional
Berikan minuman hangat yang manis, tetapi hindari alkohol dan kafein. Hindari gerakan tiba-tiba atau kasar yang bisa memicu fibrilasi ventrikel (gangguan irama jantung yang fatal).
Jika korban kehilangan kesadaran, segera cari pertolongan medis dan lakukan CPR jika perlu.
Sebagai aturan umum, jika kondisi cuaca buruk dan Anda bertanya-tanya apakah harus melanjutkan perjalanan, jawabannya mungkin adalah lebih baik berhenti.
Tubuh kita memiliki kemampuan luar biasa dalam mempertahankan suhu, tetapi dalam kondisi ekstrem, sedikit persiapan ekstra bisa menjadi penyelamat nyawa.