SportlinkNews - Mungkin tak banyak yang mengenal sosok petinju legendaris Ellyas Pical. Dibandingkan Chris John, popularitasnya jelas kalah jauh.
Chris John boleh saja secara prestasi jauh lebih mumpuni, dengan memegang gelar juara dunia kelas bulu WBA selama 10 tahun (2003–2013) dan tak terkalahkan dalam 51 pertandingan sebelum pensiun.
Tapi, bila bicara sejarah dan kontribusi, Ellyas Pical lah sang pembuka jalan.
Tanpa Elly, mungkin tidak ada yang percaya bahwa orang Indonesia bisa menjadi juara dunia tinju. Ia adalah pionir yang memecahkan stigma dan harapan di masa ketika Indonesia belum punya nama di kancah olahraga dunia.
Baca Juga: Atletico Madrid dan Nike Rilis Jersey Tandang untuk Musim Depan, Tampilkan Tema Thunderstruck
Ellyas Pical adalah juara dunia tinju pertama dari Indonesia (IBF kelas bantam super). Elly tidak memiliki latar belakang olahraga, awalnya dia hanya seorang penyelam mutiara yang tumbuh dalam kemiskinan di Maluku Tengah.
Kebiasaannya mencari kerang di laut dalam membuat pendengarannya terganggu, sehingga dirinya tidak terlalu peka dalam merespon pembicaraan. Keterbatasannya tersebut membuat dirinya hanya bisa bersekolah hingga kelas 5 SD.
Bermodalkan suka dengan olahraga tinju, dia pun diam-diam berlatih meski ditentang orang tuanya. Tinju datang tiba-tiba seperti panggilan.
Di usia 13 tahun, Elly kecil bertekad untuk mengubah nasibnya dari keterpurukan. Dia pun memulai dari bawah, tingkat kabupaten hingga level nasinoal di Piala Presiden
Baca Juga: Over The Pitch dan Bayern Munich Luncurkan Koleksi Khusus 125 Tahun Bernuansa Retro-Elegan
Sebagai petinju amatir yang bermain di kelas terbang, ia kerap menjadi juara mulai dari tingkat kabupaten hingga kejuaraan Piala Presiden.
Pada 1983, Elly pun memulai karier profesionalnya. Ia turun di kelas bantam junior.
Perlahan tapi pasti, gelar level dunia pun mulai diraihnya. Mengalahkan Hi-yung Chung asal Korea Selatan, Elly sukses menjadi juara OPBF kelas super terbang dengan kemenangan angka 12 ronde pada 19 Mei 1984 di Seoul.
Gelar tersebut menjadi gelar internasional pertama yang pernah ditorehkan oleh petinju Indonesia di luar negeri.
Baca Juga: Adidas Luncurkan Koleksi Sepatu Edisi Khusus 'Road to Glory' untuk Piala Dunia Klub 2025
Pukulannya yang khas, hook dan uppercut kirinya cepat dan keras itu, membuatnya di juluki "The Exocet" di dunia internasional.
Puncak kesuksesan Elly terjadi setahun kemudian, 3 Mei 1985. Istora Senayan menjadi saksi bisu prestasi tertingginya.
Hari itu, Istora penuh sesak, tak kurang dari 17 ribu orang yang hadir mengelu-elukan namanya, Ellyas Pical.
Jutaan mata penduduk Indonesia pun tertuju ke layar kaca, menanti sejarah baru tercipta, di mana Elly menjadi aktor utamanya.
Baca Juga: Priska Kembali Angkat Trofi Juara di Cina
Lawan datang dari Korea Selatan, Chun Ju-do. Dia menjadi lawan berat, karena Chun lebih diunggulkan.
Chun datang dengan kepercayaan diri, bahkan dia meremehkan Elly dengan mengatakan akan meng-KO jagoan Indonesia itu dalam tiga ronde.
Tapi nasib berbicara berbeda. Di ronde ke-8, pukulan Elly yang terkenal dari tangan kiri menghantam rahang lawan, Chun pun tumbang. Elly menang KO.
Ellyas Pical resmi menjadi juara dunia IBF kelas super terbang. Juara dunia pertama dari Indonesia.
Baca Juga: Nike Hypervenom Generasi Pertama Siap Comeback? Ini Sejarahnya
Popularitas Ellyas Pical melambung. Ia jadi ikon olahraga nasional.
Tekanan di atas ring semakin membesar. Setelah mempertahankan gelar melawan Wayne Mulholland (Australia) dan Lee Dong-chun (Korea Selatan), ia harus menyerah KO dari Khaosai Galaxy, petinju beringas asal Thailand, pada 1987.
Saat prestasinya menurun, internal manajemen Elly kisruh. Ia berseteru dengan beberapa manajer, sehingga akhirnya penyanyi Melky Goeslaw serta Enteng Tanamal yang akhirnya membantunya.
Setahun kemudian, Elly bangkit kembali. Ia merebut sabuk IBF dari Tae-ill Chang, petinju Korea Selatan, membuktikan bahwa dirinya bukan juara sekali pukul.
Baca Juga: Kekuatan Empat Tim Finalis di Konferensi, Thunder Terkuat dan Knicks Paling Kejutan
Sayangnya, gelar itu ditangannya tidak lama. Pada 1989, Elly terbang ke Virginia, Amerika Serikat untuk mempertahankan gelar melawan Juan Polo Perez.
Elly harus menerima kenyataan dia kalah angka. Dari situ masa emasannya pun tergerus.
Setelah bertanding di beberapa laga non-gelar, Elly akhirnya memutuskan gantung sarung tinju di usia 32 tahun dengan rekor: 26 kali tanding, 20 menang (11 KO), 1 seri, dan 5 kalah.
Berhenti menjadi petinju, Elly pun kembali dihadapkan dengan realita. Tanpa pendidikan tinggi, tanpa keahlian lain, Elly pun terpaksa menerima pekerjaan menjadi satpam salah satu diskotik di Jakarta.
Baca Juga: Setelah Juara Liga Inggris, Liverpool Malah Bukukan Rekor Negatif Usai Rengkuh Gelar
Titik terendahnya terjadi pada Juli 2005. Di mana dirinya terjerumus pada jurang obat-obatan terlarang.
Elly harus berhubungan dengan polisi karena kasus narkoba. Ia tertangkap tangan membawa tiga butir ekstasi.
Tujuh bulan dirinya dijebloskan ke penjara. Dia pun jadi bahan pembicaraan.
Di tengah sorotan negatif kepadanya, Ketua Umum KONI saat itu, Agum Gumelar, membelanya. "Elly bukan penjahat, ia pahlawan," ujarnya.
Baca Juga: Media Vietnam Kritik Mees Hilgers, Disebut Lupa Diri Setelah Gabung Timnas Indonesia
Agum pun mengajak Elly bekerja sebagai staf di KONI Pusat Jakarta. Dia bekerja di induk organisasi olahraga itu hingga saat ini.
Elly hingga kini masih mengabdi di dunia olahraga, walaupun bukan di tinju lagi. Pada 2013, Elly sempat ditunjuk sebagai pelatih cabang olahraga Muaythai di Indonesia.
Ia melatih atlet-atlet dalam Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas) Muaythai untuk persiapan SEA Games 2023 Kamboja.
Dari pengalaman hidupnya, Elly pun pernah berpesan, "Juara yang sesungguhnya tidak pernah keluar dari pertandingan, dan tidak pernah mengeluh dalam berproses".
Ellyas Pical, pukulan harapan yang tak pernah pudar.