IOC juga mengklaim bahwa “kebebasan beragama ditafsirkan dengan berbagai cara oleh negara yang berbeda.”
Tanggapan IOC tidak menyebutkan hak-hak lain yang dilanggar oleh larangan tersebut, seperti kebebasan berekspresi dan akses terhadap kesehatan.
Amnesty International mengamati peraturan di 38 negara Eropa dan menemukan bahwa Perancis adalah satu-satunya negara yang menerapkan larangan penggunaan penutup kepala baik di tingkat undang-undang nasional maupun peraturan olahraga individu.
Baca Juga: Persib Luncurkan Jersey Pramusim Bertema Bandung Lautan Api
Helene Ba, seorang pemain bola basket, mengatakan kepada Amnesty International bahwa pelarangan jilbab di Olimpiade jelas merupakan pelanggaran terhadap piagam, nilai-nilai dan ketentuan Olimpiade.
"Serta pelanggaran terhadap hak-hak dasar dan kebebasan kami. Saya pikir ini akan menjadi momen yang memalukan bagi Prancis,” katanya.
Di Prancis, larangan bagi perempuan Muslim untuk mengenakan penutup kepala keagamaan apa pun tidak hanya berlaku pada Olimpiade dan Paralimpiade.
Baca Juga: Jelang PON XXI KONI Pusat Berkolaborasi dengan OYO Indonesia
Larangan jilbab diberlakukan di beberapa cabang olahraga termasuk sepak bola, bola basket, dan bola voli, baik di tingkat profesional maupun amatir.
Larangan yang diberlakukan oleh federasi olahraga, menunjukkan bahwa banyak perempuan Muslim tidak hanya dilarang berpartisipasi dalam olahraga.
Tetapi juga tidak pernah mendapatkan pelatihan dan kesempatan berkompetisi yang diperlukan untuk mencapai tingkat Olimpiade.
Baca Juga: Tim Basket Harlem Globetrotters akan Tampil di Jakarta dalam Perjalanan World Tour Asia 2024
Larangan eksklusif di Perancis menyebabkan penghinaan, trauma dan ketakutan dan mengakibatkan banyak perempuan dan anak perempuan keluar dari olahraga yang mereka sukai atau bahkan mencari peluang di negara lain.
Mencegah perempuan dan anak perempuan Muslim untuk berpartisipasi secara penuh dan bebas dalam olahraga, dapat berdampak buruk pada semua aspek kehidupan mereka, termasuk kesehatan mental dan fisik mereka.
Helene Ba, yang tidak diizinkan berkompetisi dalam bola basket sejak Oktober 2023, mengatakan kepada Amnesty International: “Secara mental, ini juga sulit karena Anda benar-benar merasa dikucilkan."