Barce pun berbalik, dan berjalan menuju ke arah saya duduk. Lho, kenapa kok sampai begitu?
Ya, Barce yang awal telah berubah menjadi Barce yang lain. Petugas patut marah karena Barce, meski memiliki id card, tapi ia bersandal jepit, mengenakan celana jens pendek yang benang bawahnya terurai, lalu dengan kaos tanpa lengan serta rambutnya yang panjang dibiarkan terurai begitu saja.
"Gila, ini kan stadion dan olahraga, kok mereka nuntut gue mesti sopan," gerutu Barce.
Hehehe, Ce, Barce... Begitu celoteh teman-teman ketika kisah itu saya sampaikan ke mereka.
Baca Juga: Taklukkan Persebaya, Ong Kim Swee Apresiasi Daya Juang Laskar Sambernyawa
Ada lagi yang tak kalah menarik. Waktu itu Selasa 14 Juni 1994. Saya dan Barce mendarat di Airport Lax, Los Angeles untuk meliput Piala Dunia. Ya, ini PD kedua bagi saya dan Barce. Di Italia, 1990, kami juga memperoleh kepercayaan dari kantor masing-masing untuk meliputnya.
Pagi itu, suasana di gerbang imigrasi Lax, sangat padat. Saya dan Barce berbaris untuk menuju kepetugas imigrasi. "Next," ujar petugas. Saya maju, tak sampai 10 menit sudah bisa keluar.
Tapi, Barce yamg ada tepat di belakang saya, tak kunjung usai diperiksa paspornya. Hampir 20 menit, akhirnya petugas kembali: "Next,".
Baca Juga: Jhon Duran Bersinar saat Al Nassr Kalahkan Al Fayha, Cristiano Ronaldo Tunjukkan Sikap Dermawan
Anehnya Barce tidak bergerak ke arah luar, namun justru menyisih ke kiri sang petugas.
Jujur, saya bingung. Hampir satu jam sudah, dan sudah 4 sampai 5 orang selesai diperiksa dan dichop paspornya, tapi Barce tetap diam saja. Wah, kenapa sahabat yang satu ini.
Saya teringat kartu AIPS (Internatipnal Sports Perss Association). Saya pemegang kartu dengan nomoe INA0076/1. Artinya saya orang ke-76 tergabung di organisasi itu. Saya keluarkan kartu itu sambil berteriak (tidak terlalu keras): "Ce, lu punya ini gak?" pekik saya setengah bertanya.
Baca Juga: Taklukkan Persebaya, Ong Kim Swee Apresiasi Daya Juang Laskar Sambernyawa
Barce mengangguk. Lalu ia mengeluarkan kartu itu, dan ketika sang petugas berteriak Next lagi, Barce menyodorkan kartu itu. Tak ada lima menit, paspor Barce pun dichop.
"Kenapa Ce?" tanya saya didampingi Nanang Setiawan (Pikiran Rakyat) dan Ponti Carolus koresponden GO di Los Angeles).