Latihan pada waktu ini akan menghindari pembatasan diet dan cairan tubuh sebelum, selama, dan setelah latihan.
TIDUR
Kurang tidur merupakan faktor utama yang menyebabkan kelelahan di siang hari dan konsentrasi yang buruk, yang diyakini dapat membatasi performa dan pemulihan pada atlet.
Penelitian baru menunjukkan bahwa pemain sepak bola Muslim mengalami gangguan tidur yang parah selama bulan Ramadan.
Oleh karena itu, dampak tidur terhadap pemulihan dan performa, terutama selama bulan Ramadan ketika terjadi perubahan besar dalam gaya hidup, perlu dipertimbangkan.
Baca Juga: Barca Innovation Hub Jalin Kemitraan dengan Riterz Demi Memaksimalkan Pendapatan Sponsorship
Pertama-tama, pelatih dan atlet harus menyadari pentingnya tidur. Lebih lanjut, disarankan agar jadwal latihan dan kompetisi diimbangi dengan pola tidur-bangun.
Dalam semua kasus, atlet perlu didorong untuk menjadwalkan gaya hidup mereka guna mempertahankan tidur minimal 7 jam dan idealnya antara 8 hingga 9 jam.
Intervensi seperti edukasi tidur, tidur siang di siang hari, dan peningkatan kualitas tidur oleh spesialis mungkin diperlukan untuk membatasi kelelahan dan meningkatkan pemulihan.
KINERJA DAN CEDERA
Selama Ramadan, pertanyaan penting yang perlu dipertimbangkan adalah apakah intensitas latihan dapat dipertahankan atau tidak.
Sudah diketahui umum bahwa intensitas latihan yang cukup diperlukan untuk meningkatkan adaptasi dan performa atletik.
Literatur yang tersedia menunjukkan bahwa ketika diberikan pola makan, hidrasi, dan tidur yang cukup, pemain sepak bola dapat mempertahankan performa mereka selama beban latihan juga dipertahankan dalam kaitannya dengan intensitas dan volume.
Baca Juga: Presiden Inter Milan: Siklus Inzaghi Masih Jauh dari Kata Berakhir
Khususnya, satu penelitian telah melaporkan peningkatan angka cedera di kalangan non-Muslim (di negara Muslim) yang latihan dan pertandingannya diadakan pada sore dan malam hari.
Dengan demikian, tampaknya kemampuan atlet individu untuk mengatasi perubahan selama Ramadan merupakan faktor kunci yang memediasi performa.
Fakta bahwa semua atlet merespons latihan secara berbeda bukanlah hal baru. Namun, selama Ramadan ada perubahan gaya hidup tambahan yang perlu dipertimbangkan.
Artikel Terkait
A ja Wilson tentang Sepatu Nike A’One Signature-nya: Sepatu Ini Lebih Besar dari Kami
Tyson Fury Dikontak Kepala tinju Arab Saudi untuk Battle of Britain dengan Anthony Joshua
Pakai Kruk Rahmat Irianto Menangis Hadiri Pemakaman Bejo Sugiantoro
Lewis Hamilton Bergaya di Karpet Merah pada Peluncuran Mobil F1 02
Mikel Arteta: Langkahi Mayat Saya, Kami Tidak akan Berhenti Berjuang!