SportlinkNews - Kecanduan opioid, atau yang dikenal dengan gangguan penggunaan opioid (OUD), menjadi masalah kesehatan global yang serius. Pemulihan dari OUD sering kali diwarnai tingkat kambuh yang tinggi.
Saat mengalami gejala putus obat, pasien merasakan gejala yang berat, yang sebagian besar disebabkan oleh ketidakseimbangan sistem saraf, atau yang dikenal sebagai disfungsi otonom.
Namun, sebuah studi baru yang diterbitkan di JAMA Psychiatry menemukan bahwa yoga dapat membantu mengatasi ketidakseimbangan otonom ini dan mempercepat pemulihan, apabila digabungkan dengan perawatan standar.
Baca Juga: Timnas Indonesia Akan Lawan Negara Eropa Peringkat 100 Besar Dunia
Sistem saraf simpatik bertanggung jawab atas respons "fight-or-flight", yang meningkatkan detak jantung, tekanan darah, dan kewaspadaan saat tubuh menghadapi ancaman, sambil memperlambat pencernaan untuk mengalihkan energi ke otot dan organ vital.
Sebaliknya, sistem saraf parasimpatik dikenal sebagai sistem "rest and digest" yang berfungsi menenangkan tubuh dan menetralkan respons "fight-or-flight". Sistem ini menurunkan detak jantung, menstabilkan tekanan darah, merangsang pencernaan, serta membantu tubuh tetap seimbang dan rileks.
Ketergantungan pada opioid meningkatkan aktivitas sistem saraf simpatik, menciptakan ketidakseimbangan yang memicu keinginan kembali memakai (craving) dan risiko kambuh.
Baca Juga: Moritz Wagner Kembali ke Lapangan, Magic Bersiap ke Berlin dan London
Para penulis studi menjelaskan, "Variabilitas detak jantung (HRV) merupakan ukuran fisiologis penting yang mencerminkan keseimbangan simpatovagal. Sebuah tinjauan oleh Moon dan tim pada 2024 menunjukkan penurunan signifikan HRV saat istirahat pada individu dengan gangguan penggunaan zat, yang berhubungan dengan peningkatan stres, craving, dan tingkat keparahan gejala. Bukti terbaru menunjukkan bahwa disfungsi otonom, ditandai dengan HRV rendah, berkaitan dengan peningkatan craving dan kerentanan terhadap kambuh pada OUD."
Meskipun obat standar seperti buprenorfin penting dalam pemulihan, obat ini tidak sepenuhnya mengatasi ketidakseimbangan otonom yang terjadi, yaitu aktivitas parasimpatik yang menurun dan aktivitas simpatik yang meningkat selama putus obat.
Karena yoga dikenal dapat mengaktifkan sistem parasimpatik, studi ini mengevaluasi praktik yoga sebagai terapi tambahan untuk pemulihan putus opioid, sekaligus menilai dampaknya terhadap HRV, kecemasan, kualitas tidur, dan persepsi nyeri.
Baca Juga: Tersingkir dari Piala FA, Statistik Mengerikan di Balik Musim Manchester United Terungkap
Penelitian dilakukan dalam bentuk uji klinis acak dengan 59 peserta pria berusia 18–50 tahun, yang mengalami gejala putus opioid ringan hingga sedang. Peserta dibagi menjadi dua kelompok: kelompok terapi tambahan yoga (YAT) dan kelompok kontrol dengan perawatan standar (TAU).
Kelompok YAT menjalani 10 sesi yoga yang diawasi, masing-masing berdurasi 45 menit selama 14 hari, bersamaan dengan perawatan buprenorfin standar. Sesi yoga mencakup latihan relaksasi, postur sadar (asana), teknik pengaturan napas, dan relaksasi terpandu. Kelompok kontrol hanya menerima perawatan standar.
Artikel Terkait
Ilmu Yoga Asana yang Meredakan Nyeri Lutut
Manfaat Yoga untuk Aktivitas Olahraga
Cedera Lari: Simetri Kekuatan Pinggul untuk Kesehatan Kaki
Bermain Olahraga Remaja Dikaitkan dengan Kesehatan Mental yang Lebih Baik pada Orang Dewasa
Kesehatan Mental dan Risiko Cedera Fisik Saling Berkaitan