SportlinkNews - Meskipun jarang terjadi, serangan jantung mendadak (sudden cardiac arrest/SCA) pada atlet sering berlangsung di tempat-tempat yang sangat terlihat publik, seperti arena olahraga. Kejadian ini memunculkan pertanyaan tentang penyebab mendasar, kesiapan darurat, dan dampak jangka panjang.
Sebuah tinjauan terbaru oleh Rachel Lampert, MD, dari Yale School of Medicine, yang diterbitkan di New England Journal of Medicine, memberikan gambaran komprehensif mengenai SCA—mulai dari kejadian, diagnosis, strategi pencegahan, hingga pertimbangan kembalinya atlet ke lapangan.
SCA kerap menjadi gejala pertama dari kondisi jantung yang belum terdiagnosis pada atlet muda. Walau jarang, serangan ini bisa terjadi saat aktivitas fisik yang intens.
Baca Juga: Arsenal Gagal Bungkam Nottingham Forest, Mikel Arteta: Mereka adalah Tim yang Sangat Terorganisir
Penyebab utama SCA pada atlet meliputi penyakit jantung struktural yang diturunkan, seperti hipertrofi kardiomiopati, gangguan listrik jantung seperti Long QT syndrome, dan kelainan bawaan jantung. Kondisi-kondisi ini sulit dideteksi tanpa skrining yang proaktif.
“Serangan jantung mendadak pada atlet menarik perhatian publik, tapi masih dibutuhkan panduan klinis yang lebih terintegrasi,” ujar Lampert, Robert W Berliner Professor of Medicine (cardiovascular medicine).
“Tinjauan ini dirancang untuk memberikan pengantar lengkap bagi penyedia layanan kesehatan—dari identifikasi risiko hingga percakapan terkait kembalinya atlet ke olahraga.”
Baca Juga: Liverpool Ditahan Imbang Burnley, Arne Slot: Mengecewakan! Kami Mendapat Banyak Peluang Tapi Gagal
Tinjauan ini, yang juga ditulis oleh Kimberly Harmon, MD, dari University of Washington, menekankan dua strategi utama pencegahan.
Pencegahan primer adalah upaya mendeteksi kondisi jantung sebelum terjadi masalah. Salah satunya melalui skrining EKG (elektrokardiogram), yang telah diterapkan di sekitar setengah program National Collegiate Athletic Association (NCAA) dan digunakan di Yale sebagai bagian dari proses standar persetujuan atlet.
Meski EKG meningkatkan kemungkinan mendeteksi kondisi jantung tersembunyi, Lampert menekankan bahwa pemeriksaan ini hanyalah langkah awal. Hasilnya harus diinterpretasikan oleh ahli dan ditindaklanjuti dengan perawatan yang tepat.
Baca Juga: Michael Carrick Hadirkan Keajaiban di Old Trafford Tapi Manchester United Masih Belum Aman
Pencegahan sekunder adalah tindakan terorganisir segera setelah terjadi serangan jantung, dengan tujuan mencegah kematian mendadak. Hal ini mencakup memiliki rencana darurat yang jelas, memastikan petugas tahu siapa yang memulai CPR, mengambil dan menggunakan defibrilator otomatis eksternal, serta mengoordinasikan langkah selanjutnya setelah pasien stabil.
Tinjauan ini juga menyoroti pentingnya pengambilan keputusan bersama, yaitu pendekatan klinis yang mengutamakan nilai dan preferensi pasien bersamaan dengan keahlian medis, setelah seorang atlet didiagnosis menderita penyakit jantung—baik melalui skrining sebelum kompetisi, skrining lain, atau berdasarkan gejala.
Artikel Terkait
Mengapa Atlet Memiliki Detak Jantung Lebih Rendah, Apakah Itu Aman?
Bejo Sugiantoro Wafat, Ini Risiko Serangan Jantung Saat Olahraga
Pingsan Mengerikan di Lapangan, Pemain Sepak Bola Savy King Operasi Jantung Darurat
Studi Belanda Menemukan Detak Jantung Atlet Wanita Mengikuti Irama yang Berbeda
Stres Sementara, Jantung Tetap Sehat bagi Pelari Maraton