SportlinkNews - Detak jantung yang lebih rendah atau biasa dikenal dengan 'detak jantung istirahat' biasanya menggambar berapa kali jantung berdetak dalam periode waktu tertentu ketika orang beristirahat, tanpa ada faktor luar yang mempengaruhinya.
Denyut jantung normal seorang atlet biasanya jauh lebih rendah daripada denyut jantung orang yang bukan atlet, berkisar antara 40 hingga 50 denyut per menit.
Sedangkan denyut jantung rata-rata adalah 60 hingga 100 denyut per menit.
Baca Juga: Pemanasan Jelang FIBA Asia Cup 3X3 2025, Timnas Basket 3X3 Putra dan Putri Indonesia Ikut Lite Quest 3X3 Jumpshot
Lalu apa yang membuat detak jantung atlet lebih rendah dari orang normal, dan apakah berbahaya? simak penjelasan berikut.
Pertama, karena atlet memiliki ukuran jantung yang lebih besar.
Atlet berlatih dalam jangka waktu yang lama dengan intensitas tinggi, sehingga, jantung dapat memompa lebih banyak darah dalam setiap detaknya.
Hal itu mengurangi jumlah detak yang diperlukan untuk mempertahankan aliran darah ke seluruh tubuh.
Baca Juga: Indra Sjafri: Parapemain Tim Nasional Indonesia U20 Mampu Beradaptasi Cepat
Kedua, karena atlet latihan ketanganan, maka kekuatan dan efisiensi otot jantung juga tentu meningkat.
Ini artinya setiap detak jantung dapat memompa lebih banyak darah, sehingga mengurangi kebutuhan jantung untuk bekerja lebih keras.
Ketiga, karena berolahraga maka sirkulasi darah atlet juga lebih baik.
Memiliki resistensi yang lebih sedikit pada pembuluh darah, karena jantung dapat memompa darah dengan lebih efisien setelah rutin berolahraga.
Baca Juga: VAR Bikin 1 Kesalahan dalam Insiden Kontroversial Como Vs Juventus, Empoli-Milan, dan Torino Vs Genoa
Empat, jantung seorang atlet memiliki nada vagal yang lebih tinggi. Ini merupakan kekuatan saraf vagus yang mengontrol detak jantung.
Nada vagal yang lebih tinggi dikaitkan dengan jantung yang lebih sehat. Denyut jantung istirahat yang lebih rendah adalah konsekuensi langsung dari nada vagal yang lebih tinggi.
Sebagai contoh, atlet mampu memiliki tonus vagal yang jauh lebih tinggi daripada orang yang tidak banyak bergerak. Artinya, latihan juga meningkatkan kesehatan kardiovaskular dan membantu mengatur respons stres.
Baca Juga: Badai Debu Hentikan Pertandingan Sepak Bola, Penggemar Malah Tertawa
Lalu apa manfaat detak jantung istirahat yang lebih rendah?
1. Kesehatan kardiovaskular yang lebih baik
Sistem kardiovaskular yang sehat dapat ditentukan dengan memiliki denyut jantung istirahat yang lebih rendah dari rata-rata.
Hal ini menurunkan kemungkinan terkena penyakit kardiovaskular seperti penyakit jantung dan stroke, serta kondisi kardiovaskular lainnya.
2. Performa fisik yang lebih baik
Jika detak jantung Anda lebih rendah, itu berarti jantung Anda memompa darah dengan lebih efisien.
Hal ini juga dapat membantu meningkatkan daya tahan tubuh serta performa fisik Anda secara keseluruhan.
3. Mengurangi stres
Stres yang lebih rendah dan kesehatan mental yang lebih baik, keduanya berhubungan dengan detak jantung istirahat yang lebih rendah.
Baca Juga: Kapan dan Apa yang Harus Dimakan untuk Membuat Perbedaan dalam Latihan
Namun, ada faktor genetika yang juga dapat memengaruhi detak jantung istirahat atlet.
Hal ini pada gilirannya dapat berkontribusi pada kemampuan mereka untuk unggul dalam olahraga ketahanan (strength).
Tapi hal lain yang penting diingat adalah detak jantung yang lebih rendah tidak selalu berarti kesehatan kardiovaskular yang lebih baik.
Faktor-faktor lain yang memengaruhi kesehatan kardiovaskular termasuk kadar kolesterol, tekanan darah, dan kebugaran secara keseluruhan juga turut mempengaruhi.
Artikel Terkait
Detak Jantung Pelari Maraton Elite Dideteksi Digital Twins, Hasilnya Sungguh Mengejutkan
Rekomendasi 5 Olahraga untuk Menjaga Kesehatan Jantung bagi Pemula, Mudah dan Murah
Kenali Jenis-Jenis Latihan Kardiovaskular untuk Kesehatan Jantung Anda
Latihan di Ketinggian: Kelebihan, Kekurangan, dan Perannya dalam Sport Science
Program Latihan Pencegahan untuk Atlet yang Cedera