Secara historis, atlet dengan kondisi jantung kerap dilarang kembali bermain berdasarkan panduan yang kaku. Namun, studi Lampert dan penelitian lain menunjukkan bahwa beberapa atlet jika ditangani dan dipantau dengan tepat dapat kembali berolahraga tanpa risiko berlebihan.
Baca Juga: Arema FC Tambah Tenaga Baru untuk Memperkuat Skuat Jelang Putaran Kedua Super League 2025/26
“Pengambilan keputusan bersama mengubah proses dari larangan menyeluruh menjadi percakapan yang disesuaikan, mempertimbangkan toleransi risiko, tujuan, dan opsi pengobatan atlet,” jelas Lampert.
Lampert menekankan, meski ada kemajuan, masih terdapat banyak celah pengetahuan, terutama pada penyakit jantung keturunan yang jarang. Penelitian lebih lanjut sangat penting untuk memperluas bukti ilmiah dan menyempurnakan protokol kembalinya atlet ke lapangan.
“Tujuan kami adalah mendukung dokter dan pasien dalam mengambil keputusan kompleks ini,” kata Lampert.
“Ini tentang menggabungkan ilmu pengetahuan, penilaian risiko, dan otonomi, di mana ketiganya sama-sama penting.”
Yuk, gabung di channel whatsapp sportlinknews.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru. Klik di sini (JOIN)
Artikel Terkait
Mengapa Atlet Memiliki Detak Jantung Lebih Rendah, Apakah Itu Aman?
Bejo Sugiantoro Wafat, Ini Risiko Serangan Jantung Saat Olahraga
Pingsan Mengerikan di Lapangan, Pemain Sepak Bola Savy King Operasi Jantung Darurat
Studi Belanda Menemukan Detak Jantung Atlet Wanita Mengikuti Irama yang Berbeda
Stres Sementara, Jantung Tetap Sehat bagi Pelari Maraton