Kesimpulan: Mendengarkan musik yang disukai selama sesi HIIT-B 'habis-habis' meningkatkan kinerja olahraga dan menghasilkan respons afektif yang lebih positif pada pria dewasa yang aktif secara rekreasi, meskipun HR, laktat darah, RPE, dan kelelahan serupa dibandingkan dengan musik yang tidak disukai atau tanpa musik.
Penelitian telah menunjukkan bahwa sepanjang sesi HIIT-B terdapat perubahan respons fisiologis seperti peningkatan konsumsi oksigen, detak jantung, laktat dan perubahan psikofisiologis seperti peningkatan peringkat aktivitas yang dirasakan, penurunan persepsi pemulihan, peningkatan perasaan lelah dan penurunan persepsi kesenangan.
Baca Juga: Atlet Patut Ikuti Pola Gerakan Dasar yang Tepat Ini
Untuk meningkatkan performa selama berolahraga, penggunaan musik terbukti menjadi strategi yang efektif.
Melalui motivasi, musik memfasilitasi peningkatan kinerja fisik, serta pengurangan persepsi subjektif terhadap upaya dan peningkatan suasana hati yang dianggap penting untuk pemeliharaan program olahraga.
Selain itu, pengaruh musik dapat meningkatkan gairah dan aktivitas saraf sehingga menghasilkan peningkatan kinerja selama latihan.
Dengan demikian, pengaruh musik selama berolahraga menghasilkan respons psikofisiologis seperti peningkatan motivasi dan usaha, yang mengarah pada peningkatan kinerja, yang juga dapat dimediasi melalui peningkatan suasana hati, kenikmatan olahraga, dan peningkatan rasa kekuatan.
Artikel Terkait
Red Sparks vs IBK Altos: Penampilan Terakhir Megawati Hangestri
Megawati Meroketkan Red Sparks, Bandingkan Budaya Santai Indonesia dan Cepat Korea
Timnas U-20 Indonesia Tetap Antusias Berlatih Meski Puasa
Bernard van Aert Berpeluang Lolos ke Paris 2024
Final All England 2024: Jadwal Siaran Langsung Ginting Vs Jojo, Fajar/Rian Vs Ganda Malaysia