Yang menarik, Lilik dan Nanang adalah mantan atlet dengan prestasi membanggakan. Pernah menjadi juara dunia junior pada 1987-1988 untuk ganda putri dan ganda campuran.
Lilik merupakan anggota tim Piala Uber 1988 dan 1990 serta berpartisipasi di SEA Games dan Asian Games.
Sementara, Nanang adalah atlet nasional lompat tinggi era 2000-an yang berhasil menembus peringkat ke-6 Asia pada 2004.
Selesai jadi atlet, keduanya menjadi akademisi yang tidak jauh-jauh dari olahraga. Lilik mendalami psikologi di UI kemudian aktif di asosiasi psikologi olahraga.
Nanang memperoleh gelar master dalam sport science di Universitas Leipzig, Jerman. Ia juga penatar atletik tingkat internasional (World Athletic Lecturer) untuk region Asia Tenggara dan Asia Selatan dengan pengalaman riset dan publikasi tingkat internasional.
Ada tiga aspek analisis performa, yakni aspek fisik, teknik, dan strategi. Analisis ini didapat dari tes tertentu dan analisis video.
Dari analisis kemudian dibuat program latihan yang spesifik sesuai kebutuhan atlet. Misalnya, setelah dianalisis ternyata seorang atlet hip mobility-nya kurang, maka perlu dirancang latihan khusus untuk memperbaiki masalah itu.
Mulai dari teknik gerak, biomekanika, penguatan otot, latihan reaksi, dan lain-lain.
"Jadi, tidak bisa lagi yang penting latihan dari pagi sampai sore. Semua harus diamati dengan detail dan terarah,” papar Nanang dalam kesempatan terpisah.
“Tim Ad Hoc ini spiritnya gotong royong, kolaborasi, dan soliditas. Saya bersyukur dan berterima kasih para pakar dan akademisi dari kampus bersedia terlibat. Saya berharap kolaborasi ini dapat menjadi cikal-bakal laboratorium dan PBSI dapat menjadi pelopor sport science di Indonesia. Manfaat dan riset dan pengembangannya bisa dimanfaatkan oleh seluruh cabang olahraga. Tidak hanya untuk bulu tangkis. Pokoknya, untuk Merah Putih,” pungkas Fadil.