Sindrom Kelelahan Olahraga, Ketika Tubuh Gagal Pulih Secara Normal

Gbonk Anaqy Setyawan, Sportlink News
- Selasa, 3 Maret 2026 | 00:05 WIB
Kelelahan ekstrem setelah berolahraga. (everydayhealth)
Kelelahan ekstrem setelah berolahraga. (everydayhealth)

SportlinkNews - Lelah dan pegal setelah berolahraga adalah bagian dari proses tubuh beradaptasi.

Keringat bercucuran, napas memburu, lalu rasa letih muncul, semuanya normal. Namun, ketika tubuh terasa sangat lemas, pusing, bahkan tak kunjung pulih hingga berhari-hari, kondisi itu patut diwaspadai.

Ahli kebugaran menyebutnya sebagai sindrom kelelahan akibat olahraga.

Baca Juga: Tangan Patah Tak Hentikan Harden Antar Cavaliers Tumbangkan Nets

Berbeda dengan capek biasa yang hilang setelah istirahat cukup, sindrom ini membuat tubuh kehilangan energi lebih lama dari masa pemulihan normal. Jika dibiarkan, performa menurun dan risiko cedera meningkat.

Gejalanya bisa beragam. Mulai dari kelelahan berkepanjangan, nyeri dan kaku pada otot atau sendi, hingga mual, muntah, sakit kepala, dan pusing.

Beberapa orang juga mengalami sesak napas yang tidak biasa serta detak jantung lebih tinggi dari biasanya.

Baca Juga: Hasil Super League: Drama Empat Gol, Persebaya vs Persib Tuntas Tanpa Pemenang

Dalam kasus tertentu, kondisi ini dikenal sebagai intoleransi olahraga, ketidakmampuan mempertahankan performa dalam durasi tertentu.

Pemicunya pun beragam. Dehidrasi menjadi penyebab paling umum. Saat berkeringat, tubuh kehilangan cairan dan elektrolit yang berperan penting dalam fungsi otot dan saraf.

Tanpa asupan cairan yang cukup, tubuh lebih cepat lelah dan sulit pulih.

Baca Juga: Dari Rival Jadi Fondasi: Chemistry Booker-Brooks Bangkitkan Suns

Faktor lain adalah asupan gizi yang tidak memadai. Tubuh membutuhkan glukosa dan cadangan glikogen sebagai bahan bakar.

Latihan intensitas tinggi menguras cadangan ini dengan cepat. Tanpa pengisian ulang karbohidrat dan protein setelah latihan, proses pemulihan akan melambat.

Suhu tubuh yang meningkat drastis saat olahraga juga bisa memicu kelelahan. Jika sistem pendinginan tubuh kewalahan, performa menurun dan rasa letih datang lebih cepat.

Baca Juga: Takluk dari Vietnam, Garuda Pertiwi Finis Keempat ASEAN 2026

Begitu pula dengan teknik latihan yang kurang tepat, kurangnya pemanasan, hingga program latihan yang melampaui kapasitas fisik.

Overtraining atau latihan berlebihan juga tak kalah berbahaya. Pada olahraga ketahanan seperti maraton, beban yang terlalu berat dapat menyebabkan kerusakan serat otot dan memberi tekanan pada organ tubuh, termasuk ginjal.

Tanda-tandanya meliputi mual, demam, hingga penurunan produksi urine.

Baca Juga: Jakarta Electric PLN Mobile Lengkapi Final Four Proliga 2026

Di luar faktor fisik, kualitas tidur dan tingkat stres turut berperan. Kurang tidur membuat tubuh gagal memulihkan diri secara optimal. Sementara stres fisik maupun emosional menguras energi bahkan sebelum latihan dimulai.

Tak kalah penting, kondisi medis tertentu seperti asma, anemia, gangguan tiroid, hingga kebugaran jantung yang rendah dapat memicu kelelahan berlebihan saat berolahraga.

Jika kelelahan disertai nyeri dada, pucat, atau penurunan berat badan tanpa sebab jelas, pemeriksaan medis menjadi langkah bijak.

Baca Juga: Perang FIFA Melawan Rasisme, Kartu Merah untuk Tindakan Tersembunyi

Halaman:

Editor: Gbonk Anaqy Setyawan

Sumber: Jacksonville Orthopaedic Institute

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Bolehkah Lari Tiap Hari? Ini yang Perlu Diketahui

Minggu, 4 Januari 2026 | 22:28 WIB

Seberapa Penting Manajemen Tidur untuk Atlet?

Minggu, 15 Juni 2025 | 23:39 WIB

Manfaat Yoga untuk Aktivitas Olahraga

Jumat, 14 Februari 2025 | 07:51 WIB
X