Usai pertandingan, Evan Dimas harus duduk di kursi roda untuk menerima medali perak. Kejadian ini menghantui banyak penggemar Indonesia sekaligus menjadi kenangan yang menyedihkan saat Timnas U22 Indonesia tidak dapat meraih medali emas pada turnamen tahun itu.
Usai pertandingan, Doan Van Hau meminta maaf kepada rekannya Evan Dimas di kubu Timnas U22 Indonesia.
"Sepak bola tidak bisa terhindar dari benturan. Dalam situasi itu, Evan Dimas cedera, saya baru mengetahuinya setelah pertandingan. Di lapangan memang ada benturan, tetapi di dunia nyata, kita tetap penggemar sepak bola bersama," ungkap Doan Van Hau saat ditanya soal tekel yang menyebabkan pemain Timnas U22 Indonesia itu keluar lapangan pada babak pertama.
Baca Juga: Khusus Wanita Jangan Asal Olahraga, Ini Pentingnya Pakai Sports Bra
"Saya minta maaf kepada Dimas dan itu menjadi pelajaran bagi saya. Lain kali, saya akan berusaha lebih keras lagi."
Setelah pulih dari cederanya, pemain kelahiran 1995 itu sempat memperkuat klub-klub Indonesia seperti Persija Jakarta, Bhayangkara, Arema, PSIS Semarang, dan Persik Kediri sebelum pensiun.
Di level timnas, Evan Dimas telah bermain sebanyak 44 kali untuk timnas Indonesia dan mencetak 10 gol.
Baca Juga: Di Luar Lapangan: Genoa CFC Mendefinisikan Ulang Posisinya dalam Budaya Sepak Bola Kreatif
Menjadi Pelatih Sepakbola di Sekolah Desa
Saat ditanya tentang keinginannya menjadi pelatih sepak bola di sekolah desa, Evan Dimas menuturkan, “Saya memilih menjadi pelatih karena filosofi di sini membuka hati saya. Setelah melalui masa pertimbangan dan diskusi yang matang, saya memutuskan untuk memulai perjalanan baru.”
Sebelum menjadi pelatih penuh waktu, Evan telah memiliki lisensi kepelatihan tingkat C. Kini, ia tengah mempersiapkan diri untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat B, dengan tujuan yang jelas, yakni membangun sistem pembinaan sepak bola usia muda yang sistematis dan terarah.
“Saya mulai menata semuanya. Sekarang saya benar-benar fokus,” imbuh Evan Dimas.
Baca Juga: Igor Tudor: Level Manchester City Berbeda dengan Juventus
Dalam proses mengajar sepak bola, Evan Dimas menyadari bahwa mengajar sepak bola kepada anak-anak bukan hanya sekadar mengajarkan cara mengoper atau menendang bola. Ia juga harus membantu mereka menjadi manusia seutuhnya.
“Saya harus menanamkan etika dan karakter. Kita tidak bisa hanya melatih generasi penerus dengan keterampilan. Itu fondasi masa depan sepak bola,” tegas Evan Dimas.
Meski sudah beberapa kali mendapat tawaran profesional setelah hengkang dari Persik, Evan Dimas belum berniat kembali bermain.
Baca Juga: Udinese Mundur dari Perburuan Jay Idzes, Bologna dan Lecce Masih Berminat